BaPikul Edisi VII| Opini Oleh Alvin Pratama.
Perubahan iklim semakin sering dibicarakan, namun tidak selalu dibicarakan dengan benar. Di media sosial, ruang diskusi publik, dan obrolan sehari-hari, topik ini kerap hadir dalam versi yang terlalu disederhanakan keliru atau bercampur dengan asumsi yang menyesatkan. Akibatnya, banyak orang merasa isu ini jauh dari kehidupan mereka. Padahal dampaknya sudah hadir di sekitar kita dan yang lebih mendesak untuk dipikirkan sekarang adalah bagaimana kita beradaptasi bukan sekadar percaya atau tidak percaya.
Salah satu anggapan yang masih luas beredar adalah bahwa perubahan iklim belum terbukti kebenarannya. Keraguan semacam ini sering muncul karena orang hanya melihat potongan data tertentu misalnya suhu yang lebih dingin di satu wilayah pada satu musim lalu menyimpulkan bahwa pemanasan global tidak nyata. Lembaga seperti NASA dan NOAA mencatat hampir semua tahun sejak 2010 termasuk yang paling panas sepanjang sejarah pengukuran suhu dunia. Copernicus Climate Change Service mencatat suhu rata-rata global pada 2024 sekitar 1,62 derajat Celsius lebih tinggi dibandingkan era sebelum revolusi industri. Selama masih ada yang meragukan dasar persoalan ini, akan sulit membangun kesadaran kolektif untuk bersiap menghadapinya.
Dari keraguan soal bukti, sebagian orang bergeser ke anggapan berikutnya bahwa dampak perubahan iklim terlalu dibesar-besarkan. Kenyataannya tidak demikian. Climate Central melaporkan sekitar 48,6 juta warga Indonesia terpapar panas ekstrem antara Desember 2024 hingga Februari 2025. BMKG mencatat anomali suhu rata-rata nasional mencapai 0,8 derajat Celsius diatas periode normal 1991 hingga 2020 bersamaan dengan pergeseran musim yang semakin cepat. Panas ekstrem membuat tubuh cepat lelah memicu dehidrasi dan meningkatkan risiko heatstroke. Climate Risk Index 2026 mencatat bahwa selama 1995 hingga 2024 lebih dari 832 ribu orang meninggal dunia akibat lebih dari 9.700 peristiwa cuaca ekstrem. Jika dampaknya sudah sebesar ini, menunda persiapan sama saja menambah risiko yang harus ditanggung generasi sekarang.
Kesalahpahaman lain yang sering muncul adalah anggapan bahwa kenaikan permukaan laut masih urusan generasi mendatang. Faktanya adaptasi untuk ancaman ini sudah harus berjalan sekarang. Kenaikan muka laut di Indonesia rata-rata mencapai 4,6 milimeter per tahun bahkan melebihi rata-rata kenaikan global. Dampaknya sudah berwujud abrasi banjir rob intrusi air asin kerusakan infrastruktur hingga perpindahan penduduk di sejumlah wilayah pesisir. Di kawasan pantai utara Jawa termasuk Jakarta Semarang dan Pekalongan, penggenangan permanen menjadi ancaman serius. Bahkan, menurut Kementerian Lingkungan Hidup, kondisi tersebut diperparah oleh kombinasi penurunan muka tanah dan kenaikan permukaan laut akibat pemanasan global.
Sebagai respons atas ancaman ini, pemerintah tengah menyusun Rencana Adaptasi Perubahan Iklim Nasional atau National Adaptation Plan sebagai bagian dari komitmen Indonesia pada Paris Agreement. Resiliensi terhadap bencana dan perubahan iklim juga masuk dalam Prioritas Nasional ke delapan pada Rancangan Awal RPJMN 2025-2029 dengan target menurunkan potensi kerugian ekonomi akibat perubahan iklim pada empat sektor prioritas yaitu kelautan dan pesisir air pertanian serta kesehatan. Kebijakan semacam ini sangat krusial, namun tidak akan cukup jika masyarakat di tingkat akar rumput tidak dilibatkan.
Di sinilah letak kesalahpahaman berikutnya yang perlu diluruskan, yaitu anggapan bahwa adaptasi hanya bisa dilakukan lewat proyek besar dan infrastruktur mahal. Studi yang dilakukan oleh Siti Makhmudah pada tahun 2024 tentang perencanaan pembangunan wilayah pesisir dan pulau kecil justru menemukan bahwa strategi adaptasi yang efektif tidak selalu berupa tanggul beton. Restorasi ekosistem mangrove dan terumbu karang diversifikasi mata pencaharian masyarakat serta pengembangan sistem peringatan dini terbukti menjadi kombinasi yang lebih murah dan lebih berkelanjutan. Sementara itu, riset di Kepulauan Kei Besar Maluku Tenggara bahkan menunjukkan bahwa modal sosial seperti gotong royong dan jaringan kekerabatan menjadi kekuatan utama yang membuat komunitas pesisir mampu bertahan menghadapi tekanan iklim. Adaptasi semacam ini murah karena memanfaatkan apa yang sudah dimiliki masyarakat dan justru karena itu ia sering diremehkan padahal terbukti bekerja.
Kesalahpahaman terakhir yang paling merugikan adalah anggapan bahwa urusan iklim baru relevan bagi masyarakat pesisir atau petani sementara warga kota bisa menonton dari jauh. Data terbaru menunjukkan sebaliknya. Studi yang dilansir Kompas mencatat bahwa masyarakat pesisir sendiri terbelah dalam merespons ancaman ini. Sebagian memilih tetap tinggal karena keterikatan ekonomi dan sosial sementara sebagian kecil justru bergerak semakin mendekati garis pantai. Pola ini menunjukkan bahwa kerentanan terhadap perubahan iklim tidak dibagi rata. Kelompok yang paling minim sumber daya sering menjadi kelompok yang paling sulit berpindah atau beradaptasi meski mereka yang paling terpapar risiko.
Kesalahan dalam membicarakan perubahan iklim tidak selalu lahir dari niat buruk. Lebih sering ia muncul dari keterbatasan informasi dari data yang dibaca sepotong-sepotong atau dari jarak yang terasa jauh antara angka ilmiah dengan keseharian yang kita jalani. Wajar jika seseorang sulit merasakan urgensi kenaikan permukaan laut saat ia sedang sibuk memikirkan tagihan listrik atau biaya sekolah anak. Justru di sanalah letak masalahnya karena dua hal itu sebenarnya tidak terpisah.
Adaptasi terhadap perubahan iklim sebetulnya bisa dimulai dari langkah yang sangat dekat dengan keseharian. Di tingkat individu kebiasaan sederhana seperti menjaga asupan cairan saat cuaca panas ekstrem mengenali gejala awal heatstroke dan mengurangi aktivitas luar ruang pada jam terpanas sudah menjadi bentuk adaptasi kesehatan yang nyata. Di tingkat komunitas terutama di wilayah pesisir, penanaman mangrove bersama dan penguatan jaringan gotong royong terbukti menjadi modal ketahanan yang efektif. Di tingkat kebijakan, keberadaan Rencana Adaptasi Perubahan Iklim Nasional dan target dalam RPJMN perlu dikawal agar benar-benar sampai ke masyarakat yang paling membutuhkan bukan berhenti di dokumen perencanaan.
Kita tidak kekurangan data. Yang sering kita kekurangan adalah cara membacanya secara jujur dan cara menerjemahkannya menjadi langkah nyata. Fakta yang ada seharusnya menjadi pijakan bersama bukan alat untuk menakut-nakuti dan bukan pula bahan perdebatan tak berujung. Adaptasi perubahan iklim bukan proyek masa depan yang bisa ditunda. Ia adalah pekerjaan hari ini yang dimulai dari kesediaan kita meluruskan salah paham dan bergerak sebelum keterlambatan mengambil pilihan dari tangan kita.
Sumber :
https://www.cbc.ca/news/climate/2024-earth-warmest-year-1.7426888
https://climate.copernicus.eu/copernicus-2024-virtually-certain-be-warmest-year-and-first-year-above-15degc
https://lestari.kompas.com/read/2025/03/20/170000886/48-6-juta-penduduk-indonesia-terpapar-panas-ekstrem-dampak-perubahan-iklim?page=all
https://www.germanwatch.org/en/cri
https://wmo.int/media/news/carbon-dioxide-levels-increase-record-amount-new-highs-2024
https://science.nasa.gov/earth/explore/earth-indicators/sea-leve/
https://www.earthdata.nasa.gov/learn/data-in-action/rate-global-sea-level-rise-doubled-during-past-three-decades
https://ejurnal.kampusakademik.co.id/index.php/jinu/article/view/8769
https://kemenlh.go.id/news/detail/rencana-adaptasi-perubahan-iklim-nasional-langkah-konkret-klhbplh-hadapi-bencana-hidrometeorologis
https://bpiw.pu.go.id/artikel/strategi-pengembangan-infrastruktur-mendukung-pengarusutamaan-perubahan-iklim
https://oj.mjukn.org/index.php/jf/article/view/3192
https://lenting.fprbprovinsintt.com/repositori/strategi-adaptasi-masyarakat-pesisir-terhadap-dampak-perubahan-iklim-di-kepulauan-kei-besar-maluku-tenggara/
https://lestari.kompas.com/read/2025/09/30/170200086/gap-adaptasi-iklim-pesisir-si-kaya-menjauhi-laut-si-rentan-terjebak
https://iccwbo.org/news-publications/policies-reports/new-report-extreme-weather-events-cost-economy-2-trillion-over-the-last-decade/

