Konservasi Hutan Musim Berbasis Marga di Uitiuh Ana

Otniel Lasi (Kaka Ama atau kepala marga Laikopan) memimpin Talas. Foto: Yedi.

Salah satu hutan musim di Pulau Semau terletak pada hutan milik marga Laikopan di desa Uitiuh Ana kecamatan Semau Selatan. Hutan ini ditumbuhi berbagai jenis pohon yang dapat beradaptasi dengan iklim yang cukup ekstrim.

Hutan musim atau disebut juga monsoon forest merupakan jenis hutan yang sifatnya dipengaruhi oleh perubahan musim. Pada umumnya terletak pada wilayah tropis hingga subtropis. Wilayah hutan musim biasanya memiliki iklim hangat sepanjang tahun dan mengalami musim kemarau selama beberapa bulan (lindungihutan.com).

Ciri tumbuhan yang membentuk formasi hutan musim adalah pohon-pohonnya yang tahan dari kekeringan dan juga termasuk tumbuhan tropofit. Tumbuhan tropofit adalah tumbuhan yang mampu beradaptasi terhadap keadaan kering dan keadaan basah, pada saat musim kemarau (kering) dan daunnya meranggas. Sebaliknya, tumbuhan tropofit ini saat musim hujan memiliki daun yang lebat. Mahoni merupakan salah satu jenis tumbuhan tropofit yang tumbuh di hutan musim (Zid, 2018).

Persebaran hutan musim di Indonesia tersebar di Jawa Timur, Nusa Tenggara, Sulawesi Selatan dan Yogyakarta. Salah satu daerah persebaran hutan musim di Nusa Tenggara Timur adalah Pulau Semau. Pulau Semau termasuk daerah dengan iklim tropis dengan jumlah bulan kering lebih banyak dibandingkan jumlah bulan basah. Menurut data base International Research Institute of Climate and Society, Universitas Columbia tahun 2020, curah hujan Pulau Semau rata-rata 845 mm per tahun selama 30 tahun terakhir sejak 1991. 

Salah satu hutan musim di Pulau Semau terletak pada hutan milik marga Laikopan di desa Uitiuh Ana kecamatan Semau Selatan. Hutan ini ditumbuhi berbagai jenis pohon yang dapat beradaptasi dengan iklim yang cukup ekstrim. Beringin (Ficus benjamina), pohon kayu merah, nitas (Sterculia foetida) dan pohon kapuk hutan (Ceiba pentandra) adalah beberapa contoh pohon yang tumbuh di hutan ini. Selain itu madu hutan adalah satu hasil hutan yang biasanya diambil oleh warga untuk kebutuhan sehari-hari maupun dijual. 

Namun sekarang populasi tumbuhan sudah mulai berkurang bahkan terancam punah. Menurut Otniel Lasi (Kaka Ama atau kepala marga Laikopan), populasi tumbuhan sudah tidak banyak seperti dulu. Pepohonan diambil tanpa seizin pemilik hutan, pohon ditebang untuk mengambil madu yang letaknya di atas pohon. Semakin hari jumlah pohon pun ikut berkurang karena perilaku tidak bertanggung jawab seperti ini. Seiring hilangnya jenis-jenis tanaman ini beberapa jenis fauna seperti burung nuri dan burung kakatua juga menghilang. Hal ini disebabkan pohon tempat tinggal mereka yang sudah berkurang.

Keadaan kritis ini mendorong keluarga Laikopan pada 1 Oktober 2022 melakukan konservasi berbasis hutan marga yaitu Talas. Talas yaitu larangan untuk mengambil sumber daya sementara waktu hingga alam memulihkan populasi sumber daya yang bisa diambil. Menurut Khotari salah satu manfaat praktik konservasi berbasis komunitas ialah untuk menyatukan hubungan-hubungan antara biodiversitas agrikultur, kehidupan alam liar (hutan) serta menyediakan wilayah tangkapan air yang lebih besar/luas (Kothari, 2006). Hutan musim keluarga Laikopan merupakan daerah yang menyediakan wilayah tangkapan air yang lebih besar/luas.

“Jadi dengan Talas ini kami jaga kami punya hutan ini dia bisa kembali semula, begitu. Dan beta pikir kalau tidak dengan cara Talas ini lama kelamaan kita punya air ini susah.”ungkapnya

[Jadi dengan Talas ini, hutan kami bisa kembali seperti semula. Dan saya pikir tidak kalau tidak dilakukan Talas maka lama kelamaan air akan sulit didapatkan”ungkapnya]

Selain berguna untuk menyimpan air tanah,  hutan musim dapat menyediakan layanan ekosistem berupa jasa penyediaan (provisioning), jasa layanan pengaturan (regulation), jasa budaya (cultural), dan jasa pendukung (supporting). Macam-macam manfaat inilah membuat hutan musim harus dilindungi dengan cara konservasi. Hal yang paling utama adalah kesadaran dan inisiatif masyarakat lokal yang menjadi pendorong bagi mereka untuk menjaga kestabilan jasa layanan ekosistem. *** (YL)

Lainnya: