Pasar Katemak 6 dan Gerakan Penghidupan Berkelanjutan Oleh Warga

Dokumentasi Pasar Katemak 6_Yedi
Dokumentasi Pasar Katemak 6_Yedi

Siang itu pukul 11.00 WITA, (13/11) situasi di To’Menas, Mollo Utara tampak berkabut dan mendung. Orang mulai ramai berdatangan ke kawasan wisata ini. Para ibu dari beberapa desa mulai menata produk yang akan dijual di kawasan itu. Beberapa komunitas artisan juga mulai menyiapkan lapak mereka. Ada komunitas tato, komunitas kopi, komunitas pelukis, ada juga kuda. Sebagian orang dengan pakaian adat khas daerah Mollo lengkap dengan alat musik nampak sedang bersiap untuk menyambut sesuatu. Pasar apa ini?

***
Kegiatan penyambutan ini menjadi awal dari rangkaian Pasar Katemak ke-6 yang akan berlangsung di Kawasan Wisata To’Menas, Mollo Utara selama 2 hari, 13 -14 November 2021. Kali ini adalah Pasar Katemak (PAKAT) ke enam.
Pasar Katemak satu sampai lima selalu dilaksanakan di Kota Kupang. Kali ini Pasar Katemak enam dilaksanakan di Tomenas, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS).
“Pasar Katemak kami desain untuk bisa membuka jejaring yang lebih luas untuk menjangkau komunitas anak muda, UMKM, kelompok petani dan sektor swasta lainnya dalam rangka menemukan ide model adaptasi perubahan iklim, yang menggabungkan unsur lokal, kewirausahaan, peluang pariwisata dan pelibatan anak-anak muda” jelas Asty Banoet Private Sector Engagement Officer dari Yayasan PIKUL yang menginisiasi Pasar Katemak .
Pasar Katemak ke-enam mengangkat tema “Budaya Tabur Benih” yang merupakan budaya orang Dawan sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan sekaligus merayakan diawalinya musim tanam atau musim tabur benih. Tahun ini event organizer Pasar Katemak adalah komunitas Amfeku (An Munif Nafen Kuan, Anak Muda Membangun Kampung) yang terdiri dari anak muda asal Kupang dan TTS.
Pasar Katemak 6 Sebagai Kampanye Tradisi Budaya.
Kegiatan Pasar Katemak diawali dengan upacara adat Natoni dan tarian giring-giring untuk penjemputan para pengunjung oleh Tetua adat setempat, sekaligus sebagai tanda dimulainya pasar.
Natoni diibaratkan sebagai permintaan ijin kepada leluhur dan semesta, kepada “Uis Neno” sebagai sumber pemberi nafas kehidupan dan “Uis Pah” sebagai sumber pemberi segala kebutuhan makhluk hidup. Meminta ijin agar kegiatan dapat berjalan dengan lancar. Kehidupan orang Mollo sejak dahulu memang akrab dengan leluhurnya dan terus terjalin hingga kini.
“Penting bagi kita untuk mengangkat kembali dan memurnikan pengetahuan dan praktik kita terkait hubungan kita dengan alam, sebagai upaya menjaga keseimbangan kehidupan dan upaya pembangunan, apalagi pada masa di mana perubahan iklim adalah ancaman yang nyata. Secara historis, wilayah Fatumnasi dan sekitarnya dapat kita nikmati alamnya sekarang ini dan terjaga karena proses perjuangan panjang warga setempat melawan industri ekstratktif yang merusak” jelas Dany Wetangterah, dari Yayasan PIKUL, salah satu inisiator Pasar Katemak.
Komunitas Amfeku yang didominasi oleh anak muda pun berupaya menghadirkan budaya lokal di Pasar Katemak enam sebagai upaya pelestarian yang konkrit. “Kami berharap Pasar Katemak membantu menjaga eksistensi budaya dan pangan lokal TTS, agar anak muda juga sadar dan mau melakukan sesuatu untuk melestarikan budaya” jelas Erik Pratama, dari Komunitas Amfeku, event organizer Pasar Katemak.
Sebagai pasar dimana orang-orang bertemu, Pasar Katemak juga menjadi tempat bagi para pengunjung merayakan kebersamaan. Kebersamaan ini ditandai dengan menari bersama tarian tradisional Okomama, Bonet dan Tebe.
Tari-tarian komunal ini bermakna kebersamaan dan persatuan. Orang-orang yang menari akan membentuk lingkaran sambil bergandengan tangan dan bergantian mengalungkan selendang, simbol dari solidaritas, yang diiringi oleh nyanyian berbahasa Dawan diiringi tambur dan gitar tradisional: he’o. Sebuah pasar dengan nuansa tradisi yang kental.
Meneruskan Narasi Melestarikan Alam
PAKAT #6 juga menghadirkan mama Aleta Baun dalam dalam sesi diskusi kampung. Mama Aleta adalah seorang perempuan yang pernah berjuang dan berhasil mempertahankan wilayah Mollo dari cengkeraman industri ekstraktif. Mama Aleta bercerita tentang perjuangan beliau bersama perempuan-permpuan Mollo lainnya menjaga alam dan kekhawatiran mereka dengan kondisi saat ini.
Mama Aleta bercerita tentang berbagai usaha dilakukan oleh para perempuan di Mollo yang sadar mengenai ketersediaan air di sekitar tempat tinggal mereka yang terancam berkurang akibat dari perubahan iklim.
“Batu itu tulang, air itu darah, tanah itu daging dan hutan itu paru-paru. Jadi merusak alam sama dengan merusak tubuh kita sendiri” Mama Aleta menegaskan kalimat ini dengan mata berbinar. Mama Aleta percaya bahwa menjaga alam adalah cara untuk menjaga keberlangsungan hidup masyarakat Mollo dan alam sekitarnya. Bukan hanya saat ini tetapi hingga di masa yang akan datang.
Erik Pratama dari Komunitas Amfeku bercerita bahwa perempuan di TTS juga merupakan kelompok rentan yang terdampak perubahan iklim. Mereka punya tanggung jawab yang besar dalam keluarga khususnya ketersediaan air. Jika ketersediaan air terancam maka kehidupan mereka pun ikut terancam. “Ketong berharap Pasar Katemak juga bisa membangun kesadaran tentang perubahan iklim, karena publik masih banyak yang belum percaya dan tahu tentang ini” tambahnya.
Cara Transaksi yang Unik dan Pasar Minim Sampah
Semua transaksi di Pasar Katemak tidak menggunakan mata uang rupiah melainkan menggunakan mata uang loit. Dalam bahasa Dawan Loit artinya uang. Loit dalam satuan “kat”. Loit adalah mata uang khusus yang terbuat dari kayu dengan nominal tertera yang menunjukan konversinya ke Rupiah. 1 kat sama dengan Rp. 2000 dan berlaku kelipatannya.
Selain itu Pasar Katemak juga memberikan edukasi kepada masyarakat khususnya pelapak dan pengunjung untuk tidak menggunakan bahan sekali pakai seperti plastik untuk transaksi jual belinya, diganti dengan tas anyaman lontar atau Sokal dan koran bekas untuk membungkus barang yang dibeli pengunjung. Komitmen ini juga tertuang didalam janji PAKAT (Pasar Katemak) yang diikrarkan bersama oleh semua yang ada di dalam area Pasar Katemak.
“Di Pasar Katemak ketong mendorong gerakan zero waste dengan menekan penggunaan kantong pelastik sekali pakai. Jadi transaksi harus menggunakan koran bekas yang sudah disediakan oleh lapakers dan panitia” ujar Erik Pratama, dari Komunitas Amfeku.
Ide Pasar Katemak awalnya lahir dari Yayasan PIKUL lewat program #BetaBAPER (Beta Anak Muda Belajar Penghidupan Berkelanjutan) yang didanai oleh proyek YFF-ICDRC. Proyek ini secara khusus menginisiasi pembelajaran khusus untuk anak muda di Kupang dan So’e untuk belajar tentang Adaptasi Perubahan Iklim dan Penghidupan Berkelanjutan lewat konsep Beasiswa #BETABAPER***(Yedi Letedara, PIKUL)
#OXFAM
#OXFAMININDONESIA
#YAYASANPIKUL
#ICDRC
#YFF
#YOUNGFEMALEFARMER

Lainnya: