Pelibatan Media Untuk Diseminasi Informasi Bencana dan Perubahan Iklim

Media berperan penting dalam meneruskan informasi bagi publik. Sebagai salah satu elemen pentahelix media dibutuhkan untuk mendukung elemen-elemen lainnya dalam mendiseminasi informasi terkait kebencanaan, dan perubahan iklim.

Dalam proyek YFF tahun keempat ini, PIKUL kembali mendorong kerjasama dan sinergi elemen-elemen pentahelix melalui berbagai kegiatan termasuk melalui Workshop dengan BMKG, BPD, Media dan Pusdalops. Kegiatan ini dilakukan dalam rangka menghubungkan berbagai elemen pentahelix untuk mendukung kerja penanggulangan bencana di Nusa Tenggara Timur.

Wokshop Keterlibatan Media Dalam Isu Kebencanaan dan Adaptasi perubahan Iklim di NTT dilaksakan pada tanggal 24 Mei 2022 diikuti oleh perwakilan masyarakat umum, akademisi, media dan dunia usaha. Para peserta workshop diajak untuk berdiskusi tentang bagaimana diseminasi informasi yang dapat memenuhi kebutuhan publik tentang kebencanaan dan perubahan iklim.

Direktur PIKUL Pantoro Tri Kuswardono dalam sambutannya menyebutkan bahwa media bisa menjadi pisau bermata dua, dapat digunakan sebagai penyebar informasi baik maupun tidak. Baik atau buruk media bergantung pada sejauh mana mereka dilibatkan dalam apa yang harus disampaikan kepada publik. Media juga harus lebih dalam mengenal suatu isu sehingga tidak hanya mengejar klik dengan mengandalkan judul yang bombastis.

Menurutnya ketangguhan tidak hanya pada sistem peringatan dini saja tetapi sudah ada dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Dan lagi-lagi saya ingatkan bahwa resiliensi kita, resiliensi itu bukan hanya kita bersiap saat membuat early warning system, pada saat ada kondisi waspada tetapi juga dalam keseharian di dalam cara kita berdemokrasi.” tambahnya.

Dalam laporan IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) juga menyebutkan bahwa demokrasi yaitu kebebasan informasi adalah salah satu kunci ketangguhan. Dalam Pertemuan GPDRR di Bali juga menyatakan bahwa demokrasi, kebebasan hak atas informasi, akses atas informasi adalah pilar penting dalam membangun resiliensi. Oleh karena itu media memegang peran penting di dalamnya.

Kepala BMKG Klimatologi BMKG Lasiana Rahmattulloh Adji mengatakan sesuai dengan Undang-undang Nomor 31 Tahun 2009 BMKG melaksanakan tugas pemerintahan dalam penyelenggaraan metereologi, klimatologi dan geofisika. Pelayanan tersebut berupa layanan informasi publik dan informasi khusus. Informasi rutin yang disampaikan berupa Prakiraan Cuaca, Prakiraan Musim, Prakiraan Tinggi Gelombang Laut, Prakiraan Potensi Kebakaran Hutan dan Lahan, Informasi Kualitas Udara, Informasi Gempa Bumi Tektonik, Informasi Magnet Bumi, Informasi Tanda Waktu. Sedangkan informasi khusus seperti cuaca ekstrem, iklim ekstrem, gelombang laut berbahaya dan tsunami.

“Informasi inilah yang terkait dengan kegiatan kita ini bagaimana masyarakat itu bisa memahami apa yang kita sampaikan. Kita pun mendapatkan informasi itu apa yang sudah kita sampaikan ini perlu adanya kalau bisa mudah dipahami atau didengar oleh masyarakat umum” ungkapnya.

Dalam proses diseminasi informasi cuaca dan iklim dari BMKG bagi masyarakat pasti memiliki kebutuhan dan tantangannya. Menurut Dr. Ir. Roddialek Pollo, M.Si. (Oddi) kebutuhan/tantangan diseminasi data dan informasi mesti memenuhi Prinsip ‘DDCTAMD’ (dapat diakses, cepat, tepat, akurat, dan mudah dipahami.

Dapat diakses artinya mudah diperoleh dan diteruskan. Misalnya Press Release Perkembangan Musim Kemarau 2012 di Indonesia 05 Juni 2013.Cepat artinya dalam waktu singkat dapat menempuh jarak cukup jauh (perjalanan, gerakan, kejadian, dsb.). Tepat artinya kena benar (pada sasaran, tujuan, maksud, dsb.) betul atau cocok (tentang dugaan, ramalan, dsb.), tepat waktu, tepat lokasi, tepat cara. Akurat artinya teliti, saksama, cermat, tepat benar. Mudah dipahami artinya mudah dimengerti, sederhana atau praktis, dapat diterima oleh kelompok yang lebih luas.

Di sisi lain publik sebagai penerima informasi dari BMKG pun pada kenyataannya beragam termasuk difabel. Karena terdapat banyak ragam disabilitas maka kebutuhan akses informasi pun beragam. Selain itu informasinya harus semudah mungkin dipahami oleh teman-teman disabilitas. Hal ini disampaikan oleh Yani Nunuhitu dari organisasi Gerakan Advokasi Transformasi Disabilitas untuk Inklusi (GARAMIN) salam satu peserta workshop. GARAMIN sendiri sudah menginisiasi sebuah whatsapp grup sebagai media untuk berkomunikasi dengan teman-teman disabilitas mengenai informasi-informasi seputar COVID-19 nasional maupun lokal.

Menurutnya difabel juga harus dilibatkan dalam isu kebencanaan karena melihat dari keberagamana disabilitas yang juga memiliki kebutuhan akses informasi masing-masing. “Terus terang kalau kita disabilitas kan ada beberapa ragam disabilitas. “Nah, kita yang khususnya disabilitas fisik itu mendapatkan informasi langsung lihat, langsung dengar tetapi ada beberapa teman yang punya hambatan-hambatan tertentu seperti melihat dan mendengar itu terkadang mereka salah khususnya teman-teman tuli itu banyak hal. Contoh kalau seperti materi yang diberikan, tetapi disampaikan juga terlalu panjang itu mereka sulit pahami. Jadi kalau informasi tentang berkaitan dengan cuaca ini harus pelan dan semudah mungkin supaya bisa dipahami.” tambahnya.

Di akhir diskusi muncul masukan tentang proses desiminasi informasi cuaca, iklim dan bencana haruslah memenuhi kebutuhan masyarakat dan tidak menyesatkan. Artinya ada riset atau asesmen kebutuhan masyarakat juga dalam hal ini dilakukan oleh BMKG sehingga data dan informasi dapat dipahami dengan baik. Hal ini untuk mewujudkan masyarakat yang tangguh dan siap menghadapi ancaman bencana dan perubahan iklim.*** (YL)

Lainnya: