Pemanfaatan Mini Agroforestri di Batuinan dan Uiasa

Mama Mince, salah satu peserta diskusi tengah melakukan presentasi. (foto: Yedi)

Pertanian Pekarangan atau Mini Agroforestri merupakan pendekatan yang dipakai dalam program ini dengan memanfaatkan pekarangan rumah warga. Karena maksud dari unit agroforestri ini adalah adanya keragaman hayati baik tanaman maupun hewan ternak di ekosistem pekarangan.

Desa Batuinan dan Desa Uiasa yang berada di Pulau Semau, Kabupaten Kupang merupakan dua desa yang menjadi sasaran Program Peoples’ and Community Conserved Territories and Areas (ICCAs) atau Areal Konservasi Kelola Masyarakat (AKKM) selama sepuluh bulan dengan kolaborator/donor dari ICCA –GSI- GEF/SGP. Judul Program ini ialah “Pengembangan Mini Agroforestri untuk Menunjang Ketahanan Terhadap Pandemi”. Program ini dimulai dengan asesemen yang dilakukan bersama warga setempat, pemerintah desa dan kelompok/komunitas yang bergerak di isu pertanian.

Pertanian Pekarangan atau Mini Agroforestri merupakan pendekatan yang dipakai dalam program ini dengan memanfaatkan pekarangan rumah warga. Karena maksud dari unit agroforestri ini adalah adanya keragaman hayati baik tanaman maupun hewan ternak di ekosistem pekarangan. Masyarakat dapat memanfaatkan tanaman-tanaman obat-obatan atau biofarmaka yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal karena tidak dimanfaatkan dalam kurun waktu lama dan tidak memiliki pengetahuan bagaimana cara mengolahnya.

Batuinan menjadi lokasi pertama assesmen tim dari Yayasan PIKUL, dipimpin oleh Adriana Nomleni selaku Program Manager. Diskusi dilakukan dengan membagi dalam dua kelompok: laki-laki dan perempuan. Dipandu oleh Elsy Gracia dan Eman Sardedi kedua kelompok ini menemukan berbagai tanaman obat-obatan yang biasanya mereka ambil dari hutan maupun pekarangan rumah mereka. “Saya baru tahu kalau tanaman Kolam Susu dapat dimanfaatkan sebagi obat sakit perut dan menurunkan panas, selama ini saya tidak tahu” ungkap Afliana Luin salah satu peserta diskusi. Diskusi berlangsung selama satu jam kemudian dilanjutkan dengan presentasi oleh masing-masing kelompok yang menjelaskan tentang bagaimana pemanfaatan sumber daya alam di desa.

Tidak jauh berbeda dengan desa Batuinan, di Desa Uiasa pun menemukan berbagai tanaman obat yang mereka biasanya temukan dalam hutan dan pekarangan rumah. “Memang semua (tanaman) ada di hutan dan pekarangan tetapi tidak semua orang bisa pakai. Karena ada orang yang memang khusus bikin ramuan, ada banyak campuran tanaman lain ju” ungkap Melkiana Klomang Halti salah satu masyarakat Uiasa.

Adriana Nomleni Project Manager pun bercerita latar belakang program ini, yaitu berangkat dari situasi pandemi yang terjadi pada 2020-2021. Orang-orang harus berada di rumah untuk isolasi mandiri otomatis kebutuhan akan segala sesuatu terutama menjadi terbatas. Akhirnya sumber pangan terdekat adalah pekarangan rumah. Yayasan PIKUL melihat jika hal tersebut terjadi di pulau kecil yang memiliki ketergantungan dengan pulau besar maka akan membuat mereka kesulitan. Selain itu Pulau Semau tidak memiliki pasar dan mengharuskan masyarakat membeli kebutuhan mereka di Kupang. Sedangkan kebutuhan untuk menguatkan ketahanan tubuh sangat penting. Hal inilah yang mendasari PIKUL untuk berinisiasi memberdayakan masyarakat agar mereka dapat memanfaatkan lahan pekarangan mereka sebagai mini agroforestri. Isi dari mini agroforestri ini berupa: tanaman pangan, tanaman obat dan tanaman tahunan lainnya yang dapat mendukung ketahanan pangan mereka selama pandemi. Tidak hanya itu saja, jika terjadi bencana alam seperti badai siklon Seroja yang memutus akses transportasi pun mereka harus hidup dari apa yang ada di Pulau.

Selain pekarangan dan lahan pangan ada pun hutan yang sampai sekarang masih dimanfaatkan oleh masyarakat. Akan tetapi hanya diakses oleh laki-laki, karena kepemilikan dan hak atas tanah ada pada mereka. Yayasan PIKUL mencoba mendorong perempuan untuk terlibat dalam pengelolaan hasil hutan untuk keperluan dalam rumah tangga. Juga ada kolaborasi antara laki-laki dan perempuan, misalnya keterlibatan dalam konservasi lahan.

Adriana juga menjelaskan tentang strategi yang akan dilakukan oleh yayasan PIKUL melalui program ICCA, yaitu mengidentifikasi apa saja yang bisa dimanfaatkan di pulau ini, baik dari pekarangan maupun hutan. Setelah itu dicoba untuk melihat apa saja yang bisa dihadirkan di pekarangan tersebut. Strategi berikutnya adalah dengan melakukan konservasi yang memanfaatkan tanaman-tanaman tertentu dari hutan tetapi tetap menjaga hutan untuk generasi berikutnya. “Strategi umum yang dilakukan pasca FGD dengan mengajak masyarakat untuk bertanam, ketong mengidentifikasi dengan perempuan-perempuan yang tinggal di samping hutan. Proses identifikasi akan terus dilakukan oleh tim untuk menemukan jenis-jenis tanaman lain yang ada di pulau Semau. Selain itu untuk menemukan kendala yang ada, misalnya kekurangan air di beberapa lokasi/dusun. Karena itu kita menyasar dusun-dusun yang memiliki keterbatasan faktor pendukung untuk melakukan produksi itu terbatas.” tambahnya. *** (Yedi Letedara-PIKUL)

Lainnya: