Pertanian Pekarangan : Sumber daya Potensial Bagi Ketersediaan Pangan dan Apotik Keluarga

Mama Yemima YFF Desa Ohaem 2. Foto : Mariano Lejap

Cuaca Ekstrim yang berlangsung selama ini, mengingatkan kita untuk memperkuat sektor pangan dan pertanian agar dapat bertahan dalam situasi ketidakpastian pola cuaca ekstrim. Pada saat cuaca ekstrim warga dapat memaksimalkan potensi yang ada disekitar salah satunya pekarangan rumah. Pekarangan rumah dapat menjadi sumber daya potensial yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber ketersediaan pangan dan apotik hidup saat situasi cuaca ekstrim.

Lewat aksi warga membuat Taman Eden (pertanian pekarangan) yang didukung Yayasan PIKUL melalui penguatan petani perempuan (YFF) bekerja sama dengan OXFAM dan atas dukungan dari Australian AID/DFAT – Kemensos RI, warga desa dapat belajar terkait pertanian yang adaptif memanfaatkan pupuk organik, dengan pemanfaatan air limbah rumah tangga guna mendukung pertanian pekarangan terutama di musim kemarau.

Dalam aksi ini kelompok wanita tani di Desa Oh’aem 1 dan Oh’Aem 2 terlibat dalam pelatihan pemanfaatan limbah dengan filter air, pembuatan pupuk organik cair (POC) dan pembuatan perangkat hama (18/03/2022) lalu.

Saat kunjungan monitoring bulanan dari Tim Yayasan PIKUL dan Kupang Batanam sekalu instruktur (13-14 /05/2022), warga sudah mulai mengaplikasikan pupuk cair organik dan filter air di pertanian pekarangan milik pribadi ataupun kelompok. Warga juga berinisiatif berbagi pengetahuan pembuatan POC ini kepada sanak keluarga yang juga bertani.

Mama Uri di Desa Ohaem 1 bersama kelompok wanita tani ora et labora, bercerita dari pengalamannya menggunakan pupuk POC sangat membantu mereka menghemat air dan mempercepat usia panen tanaman  sedangkan perangkat hama yang dipasang mampu menjaga tanaman dari serangan Hama . “Setelah pakai pupuk POC, kami jadi menghemat air karena tidak lagi siram setiap hari tetapi 3 hari baru siram walaupun begitu waktu panen cabai misalnya, biasa 1 bulan lebih baru panen sekarang setelah pakai POC 3 mingguan kami sudah panen. Kalau untuk perangkat hama kami lihat sendiri banyak serangga hama yang terperangkap sehingga tidak merusak tanaman”.Jelas mama Uri.

Hal serupa juga diungkapkan  mama Yemima bersama dua orang rekan dari desa Ohaem 2 yang sudah mempraktekan pembuatan POC dan dipakai pada tanaman. Mama Yemima sudah memakai pupuk cair organik pada tanaman sawi, mentimun, daun sup dan cabai yang ada di kebun. Hasilnya pertumbuhan tanaman cukup cepat dan minim menggunakan air karena waktu penyiraman tidak dilakukan setiap hari seperti biasanya namun dpat dilakukan 3 hari sekali penyiraman menggunakan POC. Menurut mama Yemima, bahan untuk pembuatan POC juga mudah didapat disekitar rumah. Dengan memanfaatkan beberapa jenis tumbuhan, buah, dan feses ternak warga sudah dapat menghemat pengeluaran untuk biaya pupuk.

Sementara di Kab. TTS, mama Linda Tafui dari desa Taiftob sudah menggunakan POC pada tanaman sekitar 130 polibag tanaman sayuran dan melakukan penyiraman menggunakan air limbah yang sudah di filter. Bahkan kelompok tani di desa berencana untuk dapat memproduksi POC untuk dijual. Menurut mama Linda, mereka termasuk kelompok yang sulit mengakses air bersih, bahkan saat ini untuk kebutuhan air bersih mereka harus membeli air 1 tangki mobil seharga Rp80.000,-. Namun dengan adanya dukungan filter air maka mama Linda Tafui terbantu untuk kebutuhan penyiraman tanaman.

Dari pengalaman beberapa petani perempuan ini dalam hal menggunakan pupuk cair organik, perangkat hama dan filter air, warga sudah merasakan manfaat langsung dan berinisiatif untuk berbagi pengetahuan kepada tetangga sekitar. Aktivitas pemanfaatan pekarangan rumah ini mampu mendukung ketahanan pangan di dalam rumah bahkan dapat menjadi sumber pendapatan ekonomi keluarga. (Mariano Lejap-PIKUL)

Lainnya: