Bapikul Edisi IV | April 2026 | Esai reflektif atas film “Sie” oleh Ricko Wawo – Penulis di Komunitas KAHE Maumere
Sebuah film berjudul “Sie” berhasil meraih Piala Citra 2025 untuk kategori Film Dokumenter Pendek Terbaik dalam Festival Film Indonesia (FFI). Film berdurasi 30 menit ini mengantar sutradara Yosef Levi dan Produser Elsyn Puka berdiri sejajar dengan para sutradara, aktor, penulis skenario, dan produser film terbaik yang ada di negeri ini. Jauh sebelum dapat penghargaan, “Sie” terlebih dahulu diapresiasi penonton di banyak tempat. Saat ditayangkan di Maumere dalam acara Maumere Cinema yang digelar Komunitas Kahe, “Sie” seolah memanggil-manggil ingatan para penonton akan kehidupan kampung yang sunyi, teduh, asri, dan jauh dari kesan kehidupan urban.
Mario Nuwa, aktor teater, mengakui “Sie” mampu menyingkap relasi manusia dengan ruang hidupnya, antara manusia dengan alam. Mario menyebut, “bagaimana adat, mitos, dan nilai-nilai komunitas lahir dari kedekatan personal dengan alam.”
Eka Putra Nggalu, Direktur Komunitas Kahe, memuji retorika visual yang begitu kuat dan tampak ‘bercerita’ dalam “Sie”, sebuah kekuatan dokumenter yang menyentuh emosi penonton. Latar tempat Sie ada Kabupaten Sikka, tepatnya di pegunungan (Ili) Gai, yang dianggap keramat oleh masyarakat, membuat film ini terasa begitu personal, berjiwa, kata Eka. (TribunFlores.com, 2025).
“Sie” berpusat pada pergulatan hidup Veronika Nona, Nong Titus dan istrinya Maria. Ketiganya memikirkan hasil-hasil kebun dan ternak yang ada di hutan. Film yang awalnya dibuat untuk kepentingan dokumenter keluarga ini berhasil merekam kehidupan harian ketiga orang tua ini, dari pagi sampai malam. Bidikan kameranya konsisten menangkap percakapan lugas para tokoh, obrolan mereka mengalir, begitu intim memperlihatkan visual yang detail, emosi yang natural, dan suara alam; lembab, hangat, dan sunyi. Pada rimbunnya pepohonan, di antara embun yang membasahi tanah, jauh dari ingar-bingar kehidupan kota yang teramat sibuk, tokoh-tokoh protagonis ini hidup sekaligus memaknai alam yang mendekap mereka sepanjang hari.
Veronika pandai menerjemahkan tanda-tanda alam, dari sini nampak kebijaksanaan orang-orang yang hidup menyatu dengan alam. Misalnya, kalau terdengar suara tangisan dari dalam hutan, maka itu pertanda akan ada yang meninggal dunia. Sama halnya juga dengan Nong Titus, yang menemukan seekor anak kambing mati diterkam hewan buas, Jasad anak kambing itu harus diletakkan di atas pohon, tidak boleh dikubur, tujuannya supaya induk kambingnya bisa beranak lagi.
Ada sebuah adegan yang bagi banyak penonton Maumere Cinema dilihat sebagai adegan yang epik, yakni saat Titus yang sudah tua tetapi masih bertenaga, sedang makan dengan posisi membungkuk ke tanah, dikelilingi beberapa ekor anjing dan ayam. Sesekali Titus berbagi makanan dengan hewan-hewan peliharaannya itu; adegan yang kuat menunjukkan kedekatan manusia dengan alam. Konflik dari film ini berpuncak pada hilangnya satu ekor kambing milik Titus. Dia mencari kambing yang hilang itu dengan teriakan, “Sie,” cara orang-orang Nelle-Sikka memanggil kambing yang terlepas. Titus tak kunjung menemukan satu ekor kambingnya itu meski sudah dicari sepanjang hari. Dia menduga kambingnya hilang dicuri orang, atau lenyap dimakan roh-roh jahat. Teriakan “Sie” dan embusan angin bergemirisik di celah-celah pohon membuat hutan di lereng Ili Gai terasa hidup, berdenyut.
Jika kita cukup jeli melihat kekuatan cerita dalam “Sie,” meresapi setiap visualnya yang hangat, dan jujur pada diri sendiri, maka sekiranya layak diakui kalau “Sie” melukiskan salah satu keistimewaan manusia yang kini lenyap oleh modernitas; kemampuan manusia bercakap-cakap dengan alam. Kemampuan ini hanya mungkin berlangsung bila manusia dan alam ada dalam kondisi yang sedari awal setara.
Modernitas menegasikan kondisi ini, menempatkan manusia di posisi yang superior terhadap alam sekaligus menaklukkannya. Alam bukan lagi subjek, melainkan objek eksploitasi. Maka dari itu, kalau kesetaraan lenyap, yang tinggal adalah dominasi. Kalau percakapan hilang, yang tinggal hanya penindasan. Logika kolonial semacam ini terus menuntun gaya hidup manusia modern hingga sekarang—yang kian mendekati puncak krisis iklim yang parah. Dan, kolonialitas, seperti yang diulas panjang lebar oleh pemikir dekolonial Walter Mignolo, adalah sisi yang lebih gelap dari modernitas. Tesis dasarnya, tulis Mignolo, adalah modernitas merupakan narasi Eropa yang menyembunyikan sisi lebih gelapnya, kolonialitas. Kolonialitas merupakan elemen hakiki pembentuk modernitas. (Mignolo, Laune.id, 2022).
Anibal Quijano menteorikan kolonialitas sebagai petanda kondisi yang terus berlangsung di suatu wilayah bekas jajahan, kendati negara bekas jajahan itu sudah merdeka dari kolonialisme secara formal. Kolonialitas beroperasi pada tiga sistem besar (CMP: colonial matrix of power); pertama; sistem hierarki sosial (klasifikasi ras, etnisitas, dan gender), kedua; sistem pengetahuan (pengetahuan Eropasentris adalah patokan), dan ketiga; sistem budaya (Eropa sebagai puncak kebudayaan yang rasional dan modern). Matriks ini merupakan tonggak dari modernitas/kolonialitas. (Prasad, 2025)
Retorika modernitas (kemajuan, keselamatan, kebaruan, pembangunan) bergandengan tangan dengan kolonialitas. Dalam beberapa kasus, retorika modernitas bekerja melalui penjajahan. Modernitas/kolonialitas adalah dua sisi mata uang yang sama. Kolonialitas merupakan unsur hakiki dari modernitas; tidak ada modernitas tanpa kolonialitas. Demikian pun sebaliknya. Itulah kenapa para pemikir dekolonial selalu menyandingkan dua istilah ini; modernitas dan kolonialitas, dengan tanda (/) sebagai penunjuk hubungan timbal balik di antara keduanya.
Lalu apa hubungannya dengan alam?
Modernitas/kolonialitas menggerogoti alam pikir dan alam rasa masyarakat terjajah. Sejarah, pengetahuan, identitas atau kebudayaan mereka dihapus, lalu semuanya digantikan rasionalitas Eropasentris yang tidak dikenal sebelumnya. Cara masyarakat melihat alam pun berubah. Alam tak lagi punya jiwa, roh-roh yang menghuninya terusir. Sebagaimana rasionalitas barat yang analitik, kita mulai mengambil jarak dari alam dengan berusaha menjelaskannya secara positivistik (logika aristotelesian). Sejak posisi ini diambil, kita tidak lagi bercakap-cakap dengan alam. Kemampuan itu bahkan hilang lenyap. Apa yang sebenarnya merupakan keistimewaan manusia malah kini dipandang sebagai perilaku kolot, cara pandang yang kuno, mitos, atau sakit jiwa. Yang kita lakukan atas nama modernitas adalah pembungkaman terhadap alam.
Pohon, batu, laut, sungai, danau, dan biota yang menghuninya menjadi entitas mati, sehingga mudah dieksploitasi untuk kepentingan pembangunan yang tak pernah kenal batas (logika modernitas).
Bila alam dibungkam, maka manusia penghuninya pun terputus dari akar sejarah dan identitasnya sendiri. Manusia terputus dari relasi kulturalnya dengan alam. Untuk bisa selamat, manusia yang sudah ‘terasing’ terpaksa menenggelamkan diri pada arus kerja modernitas yang melayani kepentingan pasar kapitalisme global Eropa/Amerika.
Kemampuan bercakap-cakap dengan alam telah lenyap, manusia pun beralih menjadi budak yang mendengar patuh tuan kapitalisnya, untuk bisa hidup. Ketergantungan hidupnya bukan lagi pada alam, tetapi pada keseluruhan sistem yang berhasil dihidupkan oleh kolonialitas/modernitas, atau dengan kata lain bergantung pada tuan Eropa dan sistem pasar globalnya.
Bacaan Referensi
Adal, Kristin. “Film Dokumenter Sie Karya Sineas Asal Maumere NTT Raih Piala Citra FFI 2025.” Tribun Flores, November 2025. https://flores.tribunnews.com/news/54288/film-dokumenter-sie-karya-sineas-asal-maumere-ntt-raih-piala-citra-ffi-2025.
Mignolo, Walter. “Coloniality: The Darker Side of Modernity.” Terjemahan Dimas Radjalewa yang dipublikasikan di https://laune.id/sisi-gelap-modernitas/ edisi 29 April 2022.
Prasad, Ugoran. “Menanam Pertunjukan, Memulung Gelagat, Merabai Arah Liar: Suatu Mukadimah.” Dalam Mukadimah Gelagat Liar: Surat Kepercayaan Pertunjukan Dari Selatan. Yogyakarta: Garasi Performance Institute, 2025.
Bapikul Edisi IV | April 2026
Esai reflektif atas film “Sie”
Ricko Wawo – Penulis di Komunitas KAHE Maumere

