Suara dari mereka yang tak bisa bicara dibalik runtuhnya “Hutan” yang dikorbankan atas nama investasi

Alam  memegang peran penting bagi keberlangsungan hidup semua makhluk. Karena itu, pengelolaan alam harus berlandaskan pada prinsip konservasi dan perlindungan lingkungan. Dalam praktiknya, pengelolaan sumber daya alam kerap lebih mengutamakan pertumbuhan ekonomi jangka pendek dibandingkan dengan keberlanjutan ekologis. Akibatnya, terjadi ekspansi besar-besaran oleh korporasi yang tidak hanya merusak hutan, tetapi juga merampas habitat satwa dan ruang hidup masyarakat. Dari sinilah konflik agraria muncul bukan sekadar perebutan lahan, melainkan pertarungan antara kepentingan ekonomi dan keberlangsungan makhluk hidup.

Hilangnya hutan bukan hanya soal berkurangnya tutupan lahan hijau, tetapi juga tentang runtuhnya ekosistem hutan yang telah terbangun selama ratusan tahun. Hutan adalah rumah bagi berbagai jenis satwa, dari yang berukuran kecil hingga predator puncak. Ketika hutan ditebang dan diubah menjadi perkebunan atau kawasan industri, satwa kehilangan tempat tinggal, sumber makanan, dan jalur migrasi alami mereka. Area jelajah yang telah mereka kenali sejak lama seketika mengalami perubahan oleh pembukaan lahan besar-besaran untuk perkebunan yang muncul ditengah-tengah teritori mereka. Keanekaragaman tumbuhan yang biasa menjadi konsumsi para satwa berkurang secara kuantitas, digantikan dengan tanaman industri dalam skala luas. Kondisi ini membuat satwa menjadi rentan terhadap kepunahan.

Tekanan terhadap habitat juga berdampak nyata pada satwa endemik seperti orangutan. Data yang ditemukan pada Jurnal Pendidikan Biologi pada April 2026 menunjukkan bahwa penurunan populasi orangutan semakin diperparah oleh ekspansi industri kelapa sawit (Elaeis guineensis) dalam beberapa dekade terakhir. Perluasan perkebunan sawit menyebabkan hilangnya habitat alami serta kerusakan hutan yang menjadi ruang hidup utama satwa tersebut. 

Disisi lain, industri kelapa sawit merupakan sektor ekspor pertanian yang paling tinggi nilainya selama dasawarsa terakhir. Berdasarkan data dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia melalui publikasi Outlook Kelapa Sawit 2024 Indonesia merupakan produsen kelapa sawit terbesar di dunia, dengan luas areal sebesar 16,83 juta hektar dan produksi sebesar 46,82 juta ton pada tahun 2022. Luasnya perkebunan dan tingginya produksi tersebut menunjukkan bahwa ekspansi industri kelapa sawit memiliki keterkaitan erat dengan meningkatnya tekanan terhadap ekosistem hutan, termasuk berkurangnya habitat alami satwa endemik. 

Bagi orangutan, hutan adalah ruang hidupnya. Mereka biasa membangun sarangnya pada pohon dengan tinggi berkisar dari 6 sampai lebih dari 25 m dengan diameter pohon 20-40 cm, sedangkan tinggi sarang berada pada 11-15m. Namun, pohon tempat membangun sarangnya dicabut sampai ke akar. Tak sampai di situ saja, sebagai  primata frugivora, yang sebagian pola makannya didominasi oleh konsumsi buah-buahan matang yang memiliki kandungan air tinggi. Pada periode ketika ketersediaan  buah menurun, orangutan cenderung beralih mengonsumsi makanan alternatif (fallback foods) dengan nilai nutrisi lebih rendah dan sulit dicerna, seperti daun, empulur, dan kulit kayu.

Perubahan ini bukan pilihan, tetapi bentuk keterpaksaan. Habitat alami yang dirampas memaksa hewan beradaptasi dengan lingkungan baru secara drastis untuk bertahan hidup. Hewan harus mengubah perilaku, diet, atau fisiologi mereka untuk menghadapi habitat yang rusak atau berkurang, yang sering kali menyebabkan perubahan evolusioner. Tekanan yang sama juga mendorong satwa lain keluar dari habitatnya. Dalam kondisi terdesak, satwa memasuki wilayah manusia, mencari makan di kebun dan ladang. Di titik inilah konflik mulai terjadi. 

Di Sumatera Barat, misalnya, harimau sumatera ditemukan mati terjerat di dekat kebun warga di Jorong Sungai Pua, Nagari Sungai Pua, Palembayan, Agam pada Kamis, 25 Juli 2024. Peristiwa satwa masuk ke kebun warga ini sering terjadi di beberapa daerah di Indonesia. Ini menjadi penanda retaknya batasan antara habitat satwa dan ruang hidup manusia yang makin menyempit. Jerat yang awalnya dipasang untuk melindungi kebun, pada akhirnya berubah menjadi ancaman mematikan bagi satwa yang kehilangan habitatnya. Dalam situasi seperti ini, sulit menentukan siapa yang benar-benar bersalah. Satwa hanya mengikuti naluri bertahan hidup, sementara manusia berusaha menjaga sumber penghidupannya. Yang jelas, keduanya sama-sama menjadi korban dari kerusakan hutan yang terus berlangsung.

Situasi seperti ini menjelaskan bahwa hutan bukan sekadar kumpulan pohon, melainkan sistem kehidupan yang saling terhubung. Sebuah studi yang dimuat di Jurnal Sains dan Teknologi pada Februari 2024 menjelaskan hutan bermanfaat untuk menghasilkan berbagai barang dan jasa lingkungan. Jasa tersebut meliputi hutan sebagai penyerap karbon, penghasil oksigen, penyejuk udara, resapan air, konservasi air dan tanah, transportasi air, keanekaragaman hayati, jasa produksi air, jasa aliran sungai, pencegah erosi, pemasok nutrisi, dan penahan angin. 

Ketika hutan hilang, yang terganggu bukan hanya lanskap fisik, tetapi juga ekosistem di dalamnya. Satwa kehilangan habitat, tumbuhan kehilangan ruang tumbuh, dan manusia kehilangan penopang hidupnya. Hilangnya satu jenis satwa dapat mengakibatkan ketidakseimbangan yang berujung pada kerusakan yang lebih luas, misalnya ledakan populasi spesies tertentu hingga degradasi lingkungan yang semakin parah. Dalam konteks ini, menjaga hutan berarti menjaga keseluruhan sistem kehidupan yang bergantung padanya.

Di tengah tekanan terhadap ekosistem hutan, ada satu kelompok yang kerap luput dari perhatian, tetapi justru memegang peran penting, yaitu masyarakat adat. Di banyak wilayah, hutan tetap bertahan bukan karena pengawasan ketat negara atau intervensi teknologi, melainkan karena praktik hidup yang diwariskan secara turun-temurun. Masyarakat adat memiliki aturan yang mengatur hubungan manusia dengan alam mulai dari larangan menebang pohon tertentu, pembatasan berburu, hingga pembagian ruang hidup yang menjaga keseimbangan ekosistem. Pengetahuan lokal yang mereka miliki terbukti mampu mempertahankan keberlanjutan hutan dalam jangka panjang. Namun, dalam banyak kasus, keberadaan mereka justru terpinggirkan oleh kebijakan yang tidak berpihak. Ketika akses mereka dibatasi atau wilayahnya dialihkan, bukan hanya masyarakat yang kehilangan ruang hidup, tetapi hutan juga kehilangan penjaganya.

Pada akhirnya, cerita tentang hilangnya hutan bukan hanya tentang kerusakan lingkungan, tetapi tentang pilihan arah pembangunan. Apakah hutan akan terus dipandang sebagai komoditas ekonomi semata, atau sebagai fondasi kehidupan yang harus dikelola dengan timbal balik? Mulai dari habitat yang hilang hingga konflik yang tak kunjung selesai, hutan telah memberi peringatan yang jelas. Ketika keseimbangan alam diabaikan, yang muncul bukan hanya krisis ekologi, tetapi juga krisis sosial. Selanjutnya jika tidak ada perubahan, maka konflik demi konflik akan terus berulang, meninggalkan jejak kerusakan yang semakin sulit dipulihkan. (RB).

Referensi :

 

  1. Husna, H., Murtopo, S. A., & Kristianto, S. (2026). Ekspansi Kelapa Sawit terhadap Ekologi Orangutan : Perubahan Perilaku , Penggunaan Habitat , dan Konflik Manusia – Orangutan. 15(1), 140–156. Diakses dari https://ejurnal.uij.ac.id/index.php/BIO/article/view/5528/2809
  2. Mayasari, Z. M., Utama, S. P., & Ramdhon, M. (2024). Valuasi Ekonomi Nilai Jasa Hutan : Sebuah Literature Review. 3(1), 109–117. Diakses dari file:///C:/Users/hp01i/Downloads/Valuasi_Ekonomi_Nilai_Jasa_Hutan_Sebuah_Literature.pdf
  3. Prakarsa, N. A. (2019). Peran Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) Dalam Konservasi Habitat Orangutan Sebagai Akibat Pembukaan Lahan Perkebunan Kelapa Sawit Di Provinsi Kalimantan Tengah. 1–16. Diakses dari https://repository.uajy.ac.id/id/eprint/24985/2/15%2005%2012098_1.pdf
  4. Data, P., Informasi, S., Sekretariat, P., & Pertanian, K. (2024). Outlook Komoditas Perkebunan Kelapa Sawit. Diakses dari https://satudata.pertanian.go.id/assets/docs/publikasi/OUTLOOK_KELAPA_SAWIT_2024_FINAL.pdf
  5. Tempo.2026.Separah Apa Banjir Sumatera Berdampak ke Orang Utan Tapanuli. Diakses dari https://www.tempo.co/lingkungan/separah-apa-banjir-sumatera-berdampak-ke-orang-utan-tapanuli-2105248
  6. Tempo.2024.Harimau Sumatera Mati Terjerat di Kebun Warga. Diakses dari https://www.tempo.co/foto/arsip/harimau-sumatera-mati-terjerat-di-kebun-warga-21114 

Post Related

Scroll to Top