Di kebun kopi di O’besi, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Orpa berdiri memandangi pohon-pohon yang meranggas. Biji kopi rontok sebelum sempat matang. Itu bukan lagi pemandangan langka di Pulau Timor. “Dulu, kami tahu kapan hujan turun. Sekarang? Kami hanya bisa menunggu dan berharap,” ujar Orpa. Harapan yang perlahan berubah menjadi kecemasan ketika musim berganti tanpa pola yang bisa ditebak.
Di balik secangkir kopi hangat yang kita nikmati setiap pagi, tersimpan kisah panjang tentang perubahan iklim yang menggerus penghidupan petani. Di Nusa Tenggara Timur, tempat kopi bukan sekadar komoditas melainkan urat nadi ekonomi dan budaya, langit yang dulu bersahabat kini tak lagi bisa dipercaya. Dulu, musim hujan datang dengan pasti. Tanah menyambut biji-biji kopi yang ditanam dengan harapan. Tapi kini, musim datang terlambat, atau tak datang sama sekali. Hujan berubah jadi badai, kemarau jadi panjang dan membakar.
Laporan The Brewing Storm memperingatkan lahan kopi dunia akan menyusut drastis dalam beberapa dekade ke depan. Indonesia termasuk dalam peta krisis ini. Bahkan para ilmuwan memperkirakan bahwa kopi hanya akan bertahan di Ethiopia, negeri asalnya jika suhu global tak dibatasi. Hari ini, bumi telah melampaui ambang batas 1,5°C. Jika tak ada perubahan besar, dua dekade ke depan bisa membawa kenaikan hingga 4°C. Angka-angka itu bukan sekadar statistik. Ia berwujud nyata di kebun-kebun kopi di Nusa Tenggara Timur.
Orpa, petani kopi di Desa O’besi, Timor Tengah Selatan, masih ingat betul masa-masa ketika mereka tahu pasti kapan menanam dan panen. “Dulu tanam di awal musim hujan, panen di pertengahan tahun. Sekarang, musimnya susah ditebak. Hujan bisa turun saat kopi sedang berbunga,” katanya. Pada 2021, dari kebun yang biasanya menghasilkan ratusan kilogram kopi, kini Orpa hanya dapat menjual 15 kilogram. Panen terburuk sepanjang hidupnya pada tahun 2021. Di tempat yang sama, Sara hanya berhasil memanen tiga karung kopi, sekitar 25 kilogram, dari kebun yang biasanya penuh karung. Harga pun melonjak: robusta dari Rp40.000 jadi Rp85.000, arabika dari Rp120.000 jadi Rp200.000 per kilogram. Tapi kenaikan harga tak selalu berarti untung, ketika hasil panen menyusut drastis, petani tetap merugi.
Namun, tak semua petani memahami bahwa ini adalah bagian dari krisis iklim. “Petani di sini harus lihat dulu baru percaya,” kata Leo petani kopi dari Bajawa. Banyak yang masih menganggap ini sekadar cuaca buruk biasa. Mereka tidak tahu bahwa suhu bumi yang naik sedikit saja bisa mengganggu siklus hidup tanaman kopi. Arabika, misalnya, sangat sensitif terhadap suhu dan curah hujan. Jika dataran tinggi menghangat, kopi menjadi rentan terhadap hama, penyakit, dan gagal berbunga.
Kupang dan wilayah lain di NTT memang dikenal kering, dengan cahaya matahari sangat kuat. Tanahnya unik mudah menyerap air, tapi juga cepat kering. Jika tidak dijaga, lapisan subur akan menghilang. Budaya menanam tanaman semusim seperti jagung, yang membutuhkan lahan terbuka dan membakar semak, membuat pohon naungan untuk kopi semakin sulit ditemukan. Dulu, pohon pelindung seperti dadap tumbuh alami. Kini banyak yang mati, diganti dengan sengon yang justru menyerap nutrisi dari kopi. Petani mulai mencoba lamtoro sebagai alternatif, tapi hasilnya belum jelas.
Meski begitu, para petani tak tinggal diam. Di berbagai pelosok NTT, mereka mulai mengembangkan strategi untuk bertahan. Salah satunya adalah menyesuaikan waktu tanam. Di Bajawa, Leo memilih menanam di akhir musim hujan, sekitar Maret-April, agar akar kopi sempat tumbuh sebelum kemarau datang. Pemangkasan pohon kopi kini dilakukan lebih rutin, karena kopi arabika tak bisa dibiarkan tumbuh liar. Pemangkasan mencegah hama, memperbaiki sirkulasi udara, dan merangsang pertumbuhan buah.
Beberapa petani juga menerapkan sistem agroforestri menanam kopi bersama pohon kakao, kemiri, dan pisang. Sistem ini tak hanya membantu menjaga kelembaban tanah dan memperbaiki ekosistem, tetapi juga memperkuat ekonomi keluarga. Di beberapa tempat, hutan kopi bahkan menghidupkan kembali mata air yang lama mengering.
Di sisi lain, pendekatan pengendalian hama mulai berubah. Petani tak lagi semata-mata bergantung pada pestisida. Mereka mulai memanfaatkan jamur dan mikroorganisme alami untuk melawan hama secara terpadu. Di Bajawa, petani juga mulai menggali rorak lubang resapan untuk menahan air hujan dan memanfaatkan kulit kopi untuk kompos, menjaga tanah tetap subur.
Harapan juga datang dari riset. Hibrida Timor (HDT), hasil persilangan alami antara arabika dan robusta, menjadi salah satu varietas kopi yang lebih tahan terhadap iklim ekstrem. Ditemukan secara alami di Pulau Timor, HDT kini jadi andalan baru di tengah ketidakpastian. Sementara di sisi pascapanen, teknik fermentasi anaerobik menghasilkan profil rasa unik seperti pisang, madu, hingga wine. Inovasi ini membuat kopi lokal punya daya saing tinggi meski produksinya menurun.
Namun pada akhirnya, yang paling menentukan adalah keteguhan para petani itu sendiri. “Kami tetap tanam kopi, tapi sekarang kami juga tanam harapan,” kata Sara. Harapan bahwa dengan kerja keras, pengetahuan baru, dan dukungan dari berbagai pihak, kopi akan tetap tumbuh. Bahwa langit suatu hari nanti akan kembali bersahabat.
Dan hingga hari itu tiba, perjuangan para petani kopi di Nusa Tenggara Timur akan terus berlanjut setiap kopi yang mereka tanam adalah tanda mereka belum menyerah. Bahwa dalam setiap cangkir yang kita hirup, ada kisah tentang ketahanan, cinta tanah, dan harapan yang tak pernah padam.

