Resiliensi Warga di Kaki Bukit Netfoen

Udara dingin menyentuh kulit ketika memasuki Oh’aem I. Desa ini terletak di Amfoang Selatan, Kabupaten Kupang. Bentangan pepohonan dan rerumputan sepanjang jalan mendaki dan berliku-liku ketika nyaris tiba di cabang masuk desa ini memberi kesan bahwa desa ini berada di dataran tinggi.

Batang-batang bambu menjulang melambai mengucapkan selamat datang. Jalanan berbatu menuntun kendaraan memasuki rumah-rumah warga. Desa dengan banyak bambu ini akan membuat kita berjalan ke ufuk timur ketika hendak menjumpai matahari.

Dingin tak melulu kesuburan. Desa dibawah Bukit Netfoen ini punya riwayat gagal panen dan rumitnya akses air. Di tahun-tahun tertentu ketika kemarau berkepanjangan, warga Oh’aem I cukup kesulitan. Karena itu, mereka selalu berupaya mencari cara lain untuk bertani, membuka lahan dan menanam tanaman yang hemat air atau memanfaatkan musim hujan. Selain itu, mereka memanfaatkan pangan lokal seperti umbi-umbian selalu tersedia bagi mereka. Dengan demikian, mereka punya siasat ketahan pangan yang lebih terukur.

Mesakh Abednego Tanaos (48), Kepala Desa Oh’aem I, sudah lima belas tahun memimpin Oh’aem I, melihat jabatannya sebagai pekerjaan mulia karena bersentuhan langsung dengan situasi masyarakat.

“Mungkin jabatan-jabatan di tingkat kabupaten atau provinsi juga mengurusi masyarakat tetapi mereka tidak bersentuhan langsung dengan persoalan masyarakat di desa. Bertemu dengan mereka butuh protokol sementara jabatan desa bisa bertemu dengan mudah,” jelas Mesakh.

Sebagian besar masyarakat Oh’aem I memang bermata pencaharian petani. Karena itu, ajakan bagi petani untuk kembali menghidupkan kerja berkelompok terus diupayakan. Sebab kelompok tani bukan soal legalitas semata untuk kemudahan mendapatkan bantuan, tetapi menjadi kelompok progresif yang bisa saling membantu untuk menjadikan pertanian sebagai pekerjaan yang berdaya guna.

“Kami masyarakat Oh’aem sangat bersyukur ketika PIKUL mulai masuk ke sini tahun 2014. Program yang PIKUL buat bagus karena bisa membuat masyarakat memiliki ketahanan dan kemandirian pangan. Jadi kami memang mengadopsi nilai-nilai baik yang dibawa PIKUL,” ungkap Mesakh.

Teringat tahun-tahun awal kedatangan PIKUL, ada Festival Tah Tabua yang mencoba menggali akar hidup masyarakat Timor untuk mengolah dan menikmati pangan lokal, makanan pokok yang sudah dikonsumsi oleh nenek moyang orang Timor. Pelajaran berharga lain yang didapat warga Desa Oh’aem I dari PIKUL adalah dasawisma.

“Ada tidaknya bantuan, kerja kelompok tetap berjalan. Dasawisma ini memampukan kelompok tani tiap RT, yang terdiri dari 13 RT ini, untuk membangun kerja sama dan bertanggung jawab atas kerja mereka sendiri,” jelas Mesakh.

Dalam giat dasawisma, ada beberapa kriteria penilaian seperti kenyamanan lingkungan, jenis dan jumlah tanaman. Lalu pada puncak acaranya akan ditutup dengan lomba memasak pangan lokal. Apa yang ditanam oleh masing-masing kelompok tani di tiap RT, itu yang diambil untuk dikelola kemudian dikonsumsi secara bersama-sama.

Oh’aem I memiliki banyak potensi pertanian. Sayuran palawija, jahe, kunyit, lengkuas, umbi-umbian. Hasil pangan ini tidak hanya dikonsumsi sendiri, tetapi juga sering dijual hingga ke Kota Kupang. Sementara itu, potensi perkebunan di Oh’aem I meliputi kemiri, jeruk, kopi, dan porang.

“Sampai saat ini kendalanya adalah pasar. Saya mencari peluang dan jalan keluarnya. Namanya bisnis yah orang tentu akan melihat mutu, volume, dan perhitungan harga,” kata Mesakh.

Tantangan terbesar peningkatan kualitas kerja petani adalah bantuan sosial (bansos). Bagi Mesakh, bansos memanjakan masyarakat karena mereka sebenarnya bisa makan dari hasil kebun mereka sendiri.

“Dulu kita hanya kenal raskin, sekarang ini dalam bentuk uang. Jadi masyarakat merasa kerja atau tidak kerja, tiap bulan akan dikasihani oleh negara. Padahal sebetulnya masyarakat desa tidak perlu membeli begitu banyak bahan makanan. Paling hanya perlu beli minyak goreng, kopi, gula, teh, dan beberapa kebutuhan anak,” ungkap Mesakh.

Tantangan Kelompok Tani dan Cara Bertahan 

Tantangan besar para petani Desa Oh’aem I adalah ketersediaan air. Biasanya kalau suplai air stabil, mereka bisa memanen hasil sayur-sayuran empat sampai lima kali. Tetapi saat memasuki Bulan Juli sampai Oktober, ketika kemarau berkepanjangan, akses air menjadi rumit. Mereka kerap hanya bisa memanen dua kali setahun, tak jarang mengalami gagal panen.

“Air memang jadi kami punya masalah besar. Kalau debit air sudah berkurang itu sudah bertanda buruk. Kita harus doa banyak supaya sayuran bisa panen dan kita bisa makan atau jual,” jelas Petrus Konomnanu, ketua RT 12.

Tetapi kelompok tani tetap setia. Kalaupun melihat air yang sudah tidak memungkinkan, mereka tetap memuluskan harapan, atau mencari pekerjaan lain dan membuka lahan ketika musim hujan hampir tiba.

“Kalau masalah banyak kita harus punya cara yang lebih banyak untuk mengatasinya. Karena kita orang tani, ini sudah kita punya kondisi, tapi kita tidak mengemis atau menyerah,” lanjut Petrus.

Karena itu, pemerintah desa berupaya mendekatkan sumber-sumber air kepada masyarakat dengan teknologi yang dikelola dari dana desa. Tahun 2025, dana desa yang dialokasikan untuk ketahanan pangan mencapai dua ratus juta rupiah.

Di lain sisi, di Oh’aem I, petani perempuan justru lebih hidup dan bersemangat dibandingkan dengan petani laki-laki. Mereka mengatur waktu dengan tangkas. Setiap pagi dan sore, mereka akan menyirami tanaman dengan tetap harus memperhatikan urusan dapur dan pekerjaan domestik lainnya.

Uriana Tanaos, petani perempuan sekaligus guru sekolah dasar, yang juga pernah mendapatkan pembekalan Young Female Farmer (YFF), memperlihatkan kenyataan sosial itu.

“Di Oh’aem, mau jadi guru atau pegawai kantoran tetap harus punya lahan untuk dikelola. Karena kita hidup di kampung, tidak kerja tani menjadi suatu hal yang lucu. Orang bisa cap kita pemalas,” kata Uriana Tanaos.

Menyambut Masa Depan dengan Kearifan Lokal

Bagi orang-orang Oh’aem I, gotong royong bukan murni agenda negara. Saling membantu adalah kearifan lokal yang sudah dipraktikkan oleh nenek moyang mereka.

“Jadi tidak perlu dia kelompok A atau B tetapi kalau dia keluarga, tetangga, kenalan, pasti saling membantu. Dan gotong royong itu sudah dari dulu di tanah ini,” ungkap Mesakh.

Karena itu, untuk membayangkan masa depan petani Oh’aem I, mereka mesti kembali menggali akar kebudayaan masyarakat Timor. Dengan kata lain, untuk mencapai ketahanan dan kemandirian pangan, masyarakat harus lebih rajin mengolah tanah untuk kebutuhan mereka sendiri.

“Harapannya, semoga kami bisa terus bekerja sama lagi dengan PIKUL. sebab karakteristik kerja yang ditawarkan PIKUL sangat membantu masyarakat petani di desa ini. Tentu ada tantangan tetapi kami akan terus membuka diri, berupaya mencapai ketahanan dan kemandirian pangan,” tutup Mesakh.

Selain potensi, ada banyak tantangan yang perlu diperhatikan secara serius. Tetapi tantangan itu yang menguji daya tahan masyarakat yang bermukim di Desa Oh’aem I. Tantangan itu juga yang memberi harapan bahwa, kehidupan di kaki Bukit Netfoen akan terus diberkati walau selalu punya utas-utas tantangan.

Referensi: 

Obe, D. (2025). Resiliensi Warga di Kaki Bukit Netfoen [Wawancara dan narasi lapangan]. Desa Oh’aem I, Kecamatan Amfoang Selatan, Kabupaten Kupang, NTT, Indonesia.

Post Related

Scroll to Top