Kontributor Tulisan: Harianto Bahagia
Beberapa bulan yang lalu, seorang kawan mengajak saya membakar singkong di depan rumahnya. Singkong itu baru dibelinya dari pasar sore yang tak jauh dari kompleks perumahan tempat kami menyicil KPR bersubsidi. Asap tipis mengepul, bara kecil menyala, dan percakapan pun dimulai.
Kawan saya ini perantau dari Sumba. Pekerjaannya sopir truk di perusahaan distributor sembako. Jalanan adalah hidupnya: berdebu, panjang, penuh lubang. Malam itu, sambil mengipas bara, ia mendadak nyeletuk.
“Bro, tadi saya lama pulang. Jalan macet, ada demo. Kenapa sih orang-orang itu suka sekali demo?”
Pertanyaan ini sudah sering ia lontarkan. Kadang tentang Gaza, kadang soal perdebatan agama di TikTok. Malam-malamnya diisi tanya, seolah ia mewakili kebingungan rakyat kebanyakan, apa arti semua hiruk pikuk ini?
Saya tersenyum. Tak semua pertanyaan butuh jawaban. Ia penganut Marapu yang kemudian menjadi mualaf, sekolahnya hanya sampai SMP, lalu merantau ke NTB. Tapi pertanyaan-pertanyaannya yang lugu sering terasa lebih jujur daripada debat kusir para “cendekia” di televisi.
Ia menatap layar ponsel, menonton dunia dalam genggaman. Perang Gaza, pajak naik, demonstrasi mahasiswa, semuanya dipadatkan jadi hiburan digital. Lalu ia kembali bersuara:
“O ya bro, tadi pedagang di pasar cerita, pajak naik. Pajak bangunan tokonya juga melonjak. Sementara pembeli makin sepi.”
Saya menimpali, “Ya, salah satu tuntutan demonstran itu soal pajak. Soal beban ekonomi yang makin berat.”
Ia mengangguk, lalu menambahkan, “Kalau itu saya setuju, bro. Harus seimbang. Jangan pendapatan pas-pasan, tapi beban bayar segunung.”
Singkong di bara api sudah matang. Kami membelahnya, asap harum mengepul. Ia mengunyah perlahan, lalu berkata lirih, “Ini makanan kesukaanku di kampung. Belasan tahun saya tak pulang.”
Ucapan itu membuat saya terdiam sejenak. Betapa beratnya menjadi perantau: kampung halaman selalu hadir di lidah, tapi tak mudah dikunjungi. Singkong baginya bukan sekadar makanan, tapi pengganti pelukan rumah yang jauh.
Saya balik menimpali, “Makanya, setiap kali antar barang ke pasar, ente beli singkong. Buat obat rindu kampung.” Tawa kami pun pecah di malam buta, meskipun samar-samar terasa getir.
Di Situasi Gosong Rakyat Bertahan
Di depan bara singkong, percakapan kecil kami justru menyajikan potret besar negeri ini. Demonstrasi di jalan dianggap biang macet, bukan alarm darurat.
Pajak naik, rakyat menjerit, tapi jawaban pemerintah selalu seragam: “Demi pembangunan.” Kata “pembangunan” kerap dipakai seperti garam murahan, ditaburkan untuk menutup pahitnya kebijakan.
Kawan saya hanyalah sopir truk. Ia tak tahu istilah ‘keadilan fiskal’, tapi ia tahu dompetnya menipis. Ia tak membaca laporan Bank Dunia, tapi ia tahu tiap kali bensin naik, nasi di dapur makin tipis.
Ironinya, negara lebih rajin menagih daripada mendengar. Pajak dipungut sampai tetes terakhir, tapi suara rakyat sering dianggap sekadar kebisingan jalan raya.
Singkong di bara api itu pun menjadi simbol yang lebih jujur tentang makanan rakyat, murah, keras kepala, tumbuh di tanah kering sekalipun. Tak butuh subsidi, tak pernah mogok kerja, tak pernah bikin janji kosong.
Bandingkan dengan pejabat yang sibuk meresmikan proyek, tapi lupa memastikan harga beras agar tidak melonjak. Padahal, katanya pada musim panen raya lalu kita surplus beras.
Barangkali republik ini memang mirip singkong gosong yang luarnya hitam, hangus oleh api, tapi dalamnya masih menyimpan manis. Pertanyaannya, siapa yang mau repot mengupas gosong itu? Penguasa lebih suka kue tart daripada singkong bakar.
Sementara itu, rakyat kecil, seperti kawan saya, belajar puas dengan singkong gosong. Ia mungkin pahit di luar, tapi ada manis di dalam. Rakyat kita memang ahli mencari manis di tengah pahit, bahkan ketika pahit itu adalah produk resmi kebijakan negara.
Malam itu, saya belajar sesuatu dari singkong gosong, bahwa hidup rakyat sering kali hanya soal bertahan dari harga naik, dari pajak yang mencekik, dari janji politik yang tak kunjung pasti.
Ya, kami tertawa sambil mengunyah singkong gosong, karena apa lagi yang bisa dilakukan selain menertawakan kenyataan?
Apakah demokrasi kita hanya akan berhenti sebagai tontonan di layar ponsel? Atau masihkah kita percaya, obrolan sederhana di depan rumah dengan singkong bakar bisa menyimpan hikmah yang lebih besar daripada pidato pejabat di podium?
Entahlah. Yang jelas, malam itu kami makan singkong hingga tandas. Seperti rakyat melahap kenyataan: gosong di luar, manis di dalam. Bedanya, manis singkong masih bisa dirasakan, sementara manis janji politik entah kapan tiba. Nah, begitu?

