Buletin “Inisiatif” Seri I : Make the Invisible, Visible

Di tengah krisis berlapis yang melanda Indonesia Timur dari perubahan iklim, ketimpangan pembangunan, hingga bias kebijakan yang menjauh dari kebutuhan rakyat, Buletin Inisiatif kembali hadir setelah 17 tahun sebagai ruang bersama untuk memastikan yang tak terlihat menjadi terlihat. Edisi pertama di tahun 2025 ini mengajak kita menengok kembali suara-suara yang selama ini berada di pinggir: Nelayan kecil, petani skala kecil, perempuan, penyandang disabilitas, serta warga pesisir dan pulau-pulau kecil yang menghadapi krisis paling awal dan paling berat. Buletin ini merekam cerita-cerita lapangan yang memperlihatkan kenyataan pahit sekaligus harapan baru. Dari Sabu Raijua yang bergulat dengan krisis air akibat maraknya sumur bor dan tata kelola yang rapuh; dari kampung-kampung pesisir yang ruang hidupnya tergerus pembangunan yang bias estetika; hingga penyandang disabilitas di Kabupaten Kupang yang masih terhalang akses layanan dasar karena nama mereka belum tercatat utuh oleh negara. Namun dibalik sederet tantangan itu, tumbuh inisiatif-inisiatif rakyat yang membuktikan bahwa harapan tidak pernah padam.

Nelayan Oesapa membangun “rumah ikan” sebagai bentuk konservasi berbasis komunitas, petani perempuan Oh’Aem II membangun solidaritas ekonomi melalui usaha simpan-pinjam, dan warga desa memulihkan sumber daya air dengan teknologi sederhana seperti sumur resapan. Cerita-cerita ini menunjukkan bahwa solusi kerap lahir dari akar rumput, bukan dari pusat kekuasaan. Melalui Aliansi Rakyat untuk Keadilan Iklim (ARUKI), aspirasi dari 8 subjek masyarakat rentan dirangkum menjadi naskah akademik RUU Keadilan Iklim versi masyarakat sipil sebuah upaya untuk memastikan pengalaman mereka bertransformasi menjadi kebijakan yang lebih adil. Dari Konsultasi Rakyat hingga Indonesia Climate Justice Summit (ICJS) 2025, rakyat menyatakan dengan tegas bahwa mereka bukan sekadar penerima dampak, tetapi pengusung solusi. Buletin ini adalah ruang untuk mengangkat suara-suara itu. Sebuah pengingat bahwa krisis iklim bukan hanya soal emisi, tetapi soal ketidakadilan struktural yang menuntut pembenahan menyeluruh. Dari pengelolaan air, perlindungan ekosistem non-hutan, hak atas dokumen kependudukan, hingga kebutuhan nelayan dan petani dalam menghadapi cuaca ekstrem.

Melalui dokumentasi, advokasi, dan kerja-kerja pendampingan di lapangan, Yayasan PIKUL berkomitmen untuk terus menjadi jembatan yang menghubungkan pengalaman lokal dengan ruang kebijakan nasional dan global. Kami percaya bahwa pembangunan yang adil hanya mungkin terjadi ketika negara berjalan bersama rakyat, bukan meninggalkan mereka di belakang. Selamat membaca. Semoga buletin ini tidak hanya membuka mata, tetapi juga menggerakkan langkah kita bersama menuju keadilan iklim dan kesejahteraan yang setara bagi semua.

Baca disini : Buletin “Inspirasi” Seri I

Tags :
Inisiatif, Publikasi & Riset

Post Related

Scroll to Top