Pernyataan Viktor Bungtilu Laiskodat, Anggota DPR RI periode 2025–2029 sekaligus mantan Gubernur Nusa Tenggara Timur tentang hutan yang disebut bukan “paru-paru dunia” serta mengaitkan pencairan es di kutub dengan peningkatan oksigen, perlu ditanggapi secara hati-hati dan berbasis pada temuan ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan. Dalam pernyataannya pada Jumat (19/12) 2025, ia menegaskan penyumbang oksigen terbesar di Bumi berasal dari ekosistem laut melalui peran plankton dan alga, sementara hutan disebut hanya menempati urutan ketiga produsen oksigen global.
“Kita pikir hutan itu paru-paru dunia, jagalah paru-paru dunia, amazon paru-paru dunia, paru-paru dunia dari mana? Salah itu ! yang paru-paru dunia itu bukan hutan. Hutan nomor tiga penyumbang oksigen. Nomor satu itu laut, satu plankton, dua alga itu coba cek aja itu pasti nomor satu di dunia habis baru hutan, hutan itu nomor tiga,” ujarnya.
Dirinya juga menambahkan “Lautnya makin besar, makin banyak oksigennya, semakin tinggi suhunya. Es di kutub cair, lautnya makin lebar, lautnya makin luas, makin banyak oksigennya bukankah begitu? Ya, nanti kita diskusi ya?,” tambah Viktor saat Diskusi Publik Kepemimpinan dan Pembangunan NTT di Kupang.
Respon warganet terhadap pernyataan yang kontroversial mengundang diskusi panjang yang bisa kita pelajari bersama. Selain itu tanggapan para ahli juga banyak yang menyayangkan pernyataan Viktor yang dinilai akan membuat miskonsepsi kepada masyarakat.
Mari kita tinjau secara ilmiah. Pertama, apakah benar lautan merupakan penyumbang oksigen paling besar?
Produsen utama oksigen di Bumi adalah organisme fotosintetik di lautan, terutama fitoplankton seperti diatom dan sianobakteri. Lembaga riset kelautan Woods Hole Oceanographic Institution (WHOI) dan National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) menjelaskan lebih dari setengah oksigen global dihasilkan oleh fitoplankton di zona fotik laut.
Salah satu kelompok fitoplankton utama, Diatom, diperkirakan menyumbang oksigen dalam satu dari setiap lima napas manusia, sebagaimana dijelaskan dalam publikasi WHOI. Sementara itu, bakteri fotosintetik laut Prochlorococcus, menghasilkan sekitar 5–10 persen oksigen dunia (NOAA; Scripps Institution of Oceanography).
WHOI dalam literatur paleobiologi nya juga menunjukkan oksigen atmosfer Bumi mulai terbentuk jutaan tahun lalu berkat aktivitas fotosintesis alga bersel tunggal dan sianobakteri laut. Proses ini terjadi sebelum tumbuhan darat pertama muncul sekitar 470 juta tahun yang lalu. Proses yang dikenal sebagai dasar pembentukan atmosfer beroksigen modern.
Jika benar bahwa lautan merupakan penyumbang oksigen terbesar di Bumi, lalu di mana letak miskonsepsi dalam pernyataan Viktor?
Pernyataan ini menjadi miskonsepsi karena beberapa hal. Dengan menyatakan hal tersebut secara tidak langsung narasi tersebut berpotensi untuk menormalisasi perusakan hutan dan membiarkan krisis iklim agar kutub es mencair dan semakin banyak oksigen.
Meskipun lautan merupakan penyumbang utama oksigen global melalui aktivitas fitoplankton, hutan tetap memegang peran penting dalam sistem iklim dan kehidupan di Bumi.
Ahli ekologi hutan, Frances Seymour dalam penjelasannya di The Guardian,World Resources Institute tahun 2020 menjelaskan hutan berfungsi mendinginkan suhu permukaan bumi melalui proses evaporasi dari daun-daunnya. Transpirasi ini menggunakan energi matahari dan panas udara sehingga area di sekitarnya menjadi lebih sejuk
“Evapotranspiration, or the role of trees in releasing moisture into the air, produces a cooling effect. This happens when water evaporates from the surface of leaves, as well as when water pulled up through the tree’s roots is released through tiny pores in leaves. These processes function as natural air conditioning, cooling Earth’s surface and near-surface air.”
Selain itu, hutan juga merupakan penyimpan karbon global yang masif. Data ilmiah dari Global Forest Resources Assessment menunjukkan hutan menyimpan cadangan karbon dalam jumlah besar di biomassa dan tanahnya, sehingga hutan punya peran ganda dalam menangani krisis iklim. Hutan menahan pelepasan miliaran ton CO₂ ke atmosfer sekaligus membantu mengendalikan suhu lokal dan regional. Sebaliknya, IPCC Sixth Assessment Report mengungkapkan pembabatan hutan (deforestasi) diperkirakan melepaskan sekitar 5,2 miliar ton CO₂ setiap tahunnya, cadangan karbon yang terakumulasi selama jutaan tahun. Di negara-negara tropis seperti Indonesia, deforestasi juga dikaitkan dengan kontribusi signifikan terhadap peningkatan suhu permukaan bumi selama periode 1950–2010 (WRI, 2021).
Dalam konteks ketahanan pangan dan kesehatan masyarakat, keberadaan hutan di dekat kawasan pertanian terbukti penting. Penelitian agronomi dalam publikasinya menjelaskan hutan membantu menjaga kestabilan suhu yang diperlukan tanaman, dan pengurangan vegetasi hutan dapat menyebabkan penurunan hasil panen 10–20 persen akibat paparan suhu ekstrem (Journal of Applied Ecology, 2019). Bagi masyarakat adat, seperti masyarakat adat mutis di Kabupaten Timor Tengah Selatan, hutan bukan sekedar pohon, tetapi Ibu bagi mereka (PIKUL dalam artikel Mengapa Masyarakat Adat Menolak Perubahan Status Mutis?)
Ekosistem hutan pesisir seperti mangrove, rawa, dan padang lamun memiliki peran adaptasi iklim yang sangat strategis. Selain menjadi habitat bagi keanekaragaman hayati, ekosistem tersebut melindungi garis pantai dari erosi dan hantaman badai, berfungsi sebagai penyangga terhadap kenaikan permukaan laut, serta bertindak sebagai penyimpan karbon yang efisien. Penelitian menunjukkan restorasi ekosistem blue carbon dapat menyumbang mitigasi perubahan iklim sekitar 0,5 persen dari total emisi global tahunan (Nature Climate Change, 2017).
Mengenai produksi oksigen, walaupun lautan menghasilkan sebagian besar oksigen yang dihasilkan di planet ini, hutan tetap diakui sebagai produsen oksigen penting di daratan melalui fotosintesis pepohonan, yang mendukung oksigenasi lokal dan regional serta keseimbangan gas atmosfer secara keseluruhan (NOAA; WHOI).
Lalu, apakah pencairan es akan menambah oksigen karena lautan semakin luas?
Sekilas, logikanya terdengar masuk akal. Jika es mencair dan lautan bertambah luas, bukankah produksi oksigen juga meningkat? Namun, temuan ilmiah justru menunjukkan arah sebaliknya.
Sejumlah studi oseanografi global mencatat sejak 1970-an, lautan terbuka telah kehilangan sekitar 0,5 hingga 3,3 persen oksigen terlarut pada kedalaman hingga 1.000 meter. Penurunan ini terjadi bersamaan dengan meningkatnya volume laut akibat mencairnya lapisan es Greenland dan Antartika. Artinya, laut memang bertambah secara fisik, tetapi kualitas ekologisnya, khususnya ketersediaan oksigen justru memburuk (Science Advances; Schmidtko et al., 2017).
Bagaimana mekanismenya? Salah satu mekanisme utama di balik penurunan oksigen laut adalah perubahan lapisan air laut. Ketika suhu laut meningkat dan es di kutub mencair, lapisan air di permukaan menjadi lebih ringan dibandingkan air di bawahnya. Akibatnya, air laut tidak lagi mudah bercampur. Padahal, percampuran ini penting untuk membawa oksigen dari permukaan ke bagian laut yang lebih dalam. Ketika proses ini terhambat, kadar oksigen di laut pun menurun (IPCC Sixth Assessment Report, bab ocean oxygen). Jika emisi gas rumah kaca terus meningkat, IPCC memproyeksikan kandungan oksigen di laut dunia akan turun sekitar 3–4 persen hingga tahun 2100.
Kajian yang dipublikasikan dalam Frontiers in Marine Science (2003) menunjukkan penurunan oksigen di laut berkaitan erat dengan terganggunya fitoplankton, organisme mikroskopis yang hidup di lapisan laut yang masih terpapar cahaya matahari. Fitoplankton merupakan produsen utama oksigen laut melalui fotosintesis. Namun, pemanasan global serta meningkatnya radiasi ultraviolet akibat penipisan lapisan ozon terbukti menghambat proses fotosintesis dan pertumbuhan organisme ini. Ketika produktivitas fitoplankton melemah, kemampuan laut untuk menghasilkan oksigen pun ikut menurun
Masalah ini diperparah oleh pengasaman laut. Sekitar 20 – 30 persen emisi karbon dioksida (CO₂) dari aktivitas manusia diserap oleh laut. Penyerapan ini memicu perubahan kimia sehingga air laut menjadi lebih asam. Kondisi laut yang lebih asam ini menyulitkan organisme seperti kerang dan krustasea untuk membentuk cangkang, serta mengganggu keseimbangan ekosistem laut secara keseluruhan (NOAA Climate.gov; IPCC).
Bersamaan dengan menurunnya kadar oksigen, pengasaman laut menciptakan tekanan ganda bagi kehidupan laut. Selain itu, kenaikan suhu laut juga meningkatkan frekuensi dan kekuatan gelombang panas laut (marine heatwaves) yang dapat merusak habitat penting seperti terumbu karang, yang berperan besar dalam menjaga produktivitas ekosistem. Terumbu karang sangat sensitif terhadap suhu tinggi, dan peristiwa pemutihan massal akibat panas ekstrem tercatat semakin sering terjadi dalam beberapa dekade terakhir (Nature; Hughes et al., 2017).
Kesimpulannya, pernyataan lautan adalah penyumbang oksigen terbesar di Bumi memang memiliki dasar ilmiah, namun menjadi bermasalah ketika disederhanakan secara keliru dan dilepaskan dari konteks krisis iklim. Laut yang semakin luas akibat pencairan es tidak berarti akan menghasilkan lebih banyak oksigen. Justru sebaliknya, pemanasan laut, terganggunya fitoplankton, penurunan oksigen terlarut, pengasaman laut, serta gelombang panas laut menunjukkan krisis iklim melemahkan fungsi ekologis laut itu sendiri. Dalam sistem Bumi yang saling terhubung, laut dan hutan tidak dapat dipertentangkan. Keduanya bekerja bersama menopang keseimbangan iklim, kehidupan, dan keberlanjutan manusia.
Dalam konteks ini, pernyataan Viktor Bungtilu Laiskodat seharusnya disampaikan dengan kehati-hatian dan berlandaskan fakta. Ucapan seorang pejabat publik tidak berhenti sebagai opini personal, melainkan memiliki daya pengaruh dalam membentuk cara pandang masyarakat terhadap lingkungan. Karena itu, narasi yang dibangun semestinya berpijak pada data ilmiah, konteks ekologis, serta empati terhadap krisis yang dihadapi, bukan sekadar pernyataan “asal bunyi” tanpa dasar yang memadai.
Referensi
- Badan Informasi Geospasial. (n.d.). Data abrasi pantai dan perubahan garis pantai Indonesia. Badan Informasi Geospasial.
- Ellis, E. C., Goldewijk, K. K., Siebert, S., Lightman, D., & Ramankutty, N. (2010). Anthropogenic transformation of the biomes, 1700 to 2000. Global Ecology and Biogeography, 19(5), 589–606. https://doi.org/10.1111/j.1466-8238.2010.00540.x
- Food and Agriculture Organization of the United Nations. (2020). Global forest resources assessment 2020. FAO.
- Frontiers in Marine Science. (2003). Impacts of ultraviolet radiation and warming on marine phytoplankton productivity. Frontiers in Marine Science.
- Hughes, T. P., Kerry, J. T., Álvarez-Noriega, M., Álvarez-Romero, J. G., Anderson, K. D., Baird, A. H., … Wilson, S. K. (2017). Global warming and recurrent mass bleaching of corals. Nature, 543(7645), 373–377. https://doi.org/10.1038/nature21707
- Intergovernmental Panel on Climate Change. (2021). Climate change 2021: The physical science basis. Contribution of Working Group I to the Sixth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change. Cambridge University Press.
- Intergovernmental Panel on Climate Change. (2021). AR6 sea level rise and coastal risks. IPCC.
- Intergovernmental Panel on Climate Change. (2022). Climate change 2022: Impacts, adaptation and vulnerability. Contribution of Working Group II to the Sixth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change. Cambridge University Press.
- Journal of Applied Ecology. (2019). Forest loss and impacts on crop yield under temperature extremes. Journal of Applied Ecology, 56(3), 561–572.
- McLeod, E., Chmura, G. L., Bouillon, S., Salm, R., Björk, M., Duarte, C. M., … Silliman, B. R. (2011). A blueprint for blue carbon: Toward an improved understanding of the role of vegetated coastal habitats in sequestering CO₂. Frontiers in Ecology and the Environment, 9(10), 552–560. https://doi.org/10.1890/110004
- National Oceanic and Atmospheric Administration. (n.d.). Ocean acidification. NOAA Climate.gov.
- National Oceanic and Atmospheric Administration. (n.d.). Phytoplankton and oxygen production. NOAA Ocean Service.
- Schmidtko, S., Stramma, L., & Visbeck, M. (2017). Decline in global oceanic oxygen content during the past five decades. Science Advances, 3(6), e1601901. https://doi.org/10.1126/sciadv.1601901
- Scripps Institution of Oceanography. (n.d.). Prochlorococcus and global oxygen production. University of California San Diego.
- Woods Hole Oceanographic Institution. (n.d.). Ocean primary production and oxygen. Woods Hole Oceanographic Institution.
- World Resources Institute. (2020). Forests and climate change: The role of forests in cooling the planet. World Resources Institute.
- Yayasan PIKUL. (n.d.). Mengapa masyarakat adat menolak perubahan status Mutis? Yayasan PIKUL.

