BaPikul Edisi III | Opini oleh: Muhammad Sobri Maulana
Di media sosial hari ini, perhatian adalah segalanya. Di tengah notifikasi tanpa henti dan banjir konten, apa yang berhasil mencuri perhatian publik sering kali bukan informasi paling penting, melainkan yang paling emosional.
Salah satu bentuk konten yang paling cepat menyebar adalah skandal—terutama yang melibatkan figur publik. Tapi skandal di Instagram bukan sekadar soal siapa salah dan siapa benar. Ia juga bagian dari “ekonomi atensi”: sebuah sistem di mana perhatian bisa diubah menjadi popularitas, pengaruh, bahkan uang.
Indonesia adalah lahan subur untuk fenomena ini. Jumlah pengguna internet yang besar, dominasi masyarakat urban, dan luasnya jangkauan Instagram membuat platform ini menjadi ruang utama pertarungan perhatian. Di sini, isu bisa berubah menjadi viral hanya dalam hitungan jam.
Lalu, bagaimana sebuah kontroversi bisa berubah menjadi “narasi moral” yang ramai dibicarakan?
Biasanya, prosesnya dimulai dari penyederhanaan. Peristiwa yang kompleks dipadatkan menjadi cerita yang mudah dipahami: ada pihak benar dan pihak salah. Setelah itu, isu dipersonalisasi—difokuskan pada sosok tertentu agar emosi publik punya target yang jelas.
Langkah berikutnya adalah dramatisasi. Visual, caption, dan judul dibuat semenarik mungkin agar memancing reaksi. Hasilnya adalah konten yang terasa mendesak, emosional, dan sulit diabaikan.
Di sinilah peran algoritma menjadi penting. Sistem di Instagram cenderung mempromosikan konten yang banyak mendapat interaksi—like, komentar, dan share. Masalahnya, konten yang memicu emosi, terutama kemarahan, biasanya lebih banyak mendapat respons.
Akibatnya, kemarahan menjadi “bahan bakar” utama penyebaran konten.
Semakin banyak orang marah, semakin besar kemungkinan konten itu muncul di lebih banyak feed. Bahkan, kemarahan dari orang yang tidak setuju pun tetap membantu penyebaran. Dalam logika ini, tidak penting apakah orang setuju atau tidak—yang penting mereka bereaksi.
Fenomena ini juga menciptakan ilusi. Kita sering merasa bahwa semua orang sedang marah besar terhadap suatu isu, padahal bisa jadi itu hanya efek dari algoritma yang menonjolkan konten paling emosional.
Di sisi lain, ada keuntungan yang bisa didapat dari situasi ini. Akun yang pertama kali membingkai isu atau berhasil membuat kontennya viral bisa mendapatkan lonjakan followers, traffic, hingga peluang komersial. Artinya, kemarahan publik bisa berubah menjadi nilai ekonomi.
Di titik ini, skandal bukan lagi sekadar peristiwa, tetapi komoditas.
Masalahnya, kondisi ini punya dampak serius pada ruang publik. Diskusi yang seharusnya kompleks sering kali berubah menjadi debat hitam-putih. Informasi yang belum lengkap bisa langsung memicu “penghakiman massal”. Dan persepsi publik bisa terbentuk lebih cepat daripada proses verifikasi.
Lebih jauh lagi, dalam beberapa kasus, perhatian publik tidak selalu terbentuk secara alami. Ada aktor-aktor tertentu yang sengaja mendorong sebuah isu agar viral, baik untuk kepentingan politik maupun ekonomi. Ini membuat batas antara reaksi spontan dan rekayasa menjadi semakin kabur.
Karena itu, penting bagi kita untuk lebih sadar bahwa apa yang kita lihat di media sosial bukan sekadar cerminan realitas, tetapi hasil dari kombinasi antara emosi manusia dan logika platform.
Memahami cara kerja “ekonomi atensi” membantu kita lebih kritis: tidak mudah terpancing, tidak buru-buru menghakimi, dan lebih berhati-hati dalam ikut menyebarkan konten.
Pada akhirnya, pertanyaannya bukan hanya “apa yang viral?”, tetapi juga “mengapa ini viral, dan siapa yang diuntungkan?”.
BaPikul Edisi III | Opini oleh: Muhammad Sobri Maulana

