SUNYI YANG TAK TERBAHASAKAN: MENAGIH HAK BURUH DI BALIK ISYARAT

Bapikul Edisi IV | April 2026 | Opini oleh  Willy Jhon Antonio Anakay

Dua puluh delapan tahun setelah keran Reformasi dibuka, kita sering merayakan kebebasan berpendapat dan keterbukaan informasi sebagai pencapaian besar bangsa. Namun, di sudut-sudut ruang publik Nusa Tenggara Timur (NTT), dari puskesmas hingga kantor administrasi, dari bangku PAUD sampai perguruan tinggi, masih ada sekat sunyi yang belum benar-benar runtuh. Di tengah gegap gempita narasi pembangunan inklusif, ada satu profesi yang bergerak di antara sunyi dan suara, namun seringkali terabaikan dalam nalar ketenagakerjaan kita: Juru Bahasa Isyarat (JBI).

Sebagai seorang JBI di NTT, saya sering mendapati diri saya berdiri di garis depan aksesibilitas bagi komunitas Tuli. Namun, posisi ini menyimpan ironi yang mendalam. Di satu sisi, JBI adalah jembatan vital bagi komunitas Tuli untuk mengakses kesehatan, pendidikan, dan hak sipil. Di sisi lain, profesi ini masih dipandang sebelah mata, bahkan sering kali gagal dikenali sebagai sebuah “pekerjaan” profesional. Orang-orang mengira profesi ini adalah gambaran malaikat tidak bersayap, terkadang dianggap relawan manusia, bahkan tidak jarang dikira sedang melakukan gerakan dance Tik Tok.

Miskonsepsi dan Beban Label “Relawan”
Salah satu keresahan terbesar yang kami hadapi adalah stigmatisasi profesi Juru Bahasa Isyarat sebagai relawan yang tidak dibayar. Hingga hari ini, banyak pihak—baik instansi pemerintah maupun swasta—yang menyamakan JBI dengan relawan sosial. Kami sering dianggap sebagai perpanjangan tangan dinas sosial atau organisasi agama yang bekerja atas dasar “kedermawanan” semata.

Label relawan ini berdampak langsung pada kesejahteraan para SDM yang menjalani profesi ini, yang faktanya tidak lebih dari 10 orang di provinsi NTT. Pembayaran yang tidak jelas, honorarium yang sering kali dirapel atau bahkan terlupakan, menjadi potret buram bagaimana hak buruh JBI belum terpenuhi. Padahal, menjadi JBI memerlukan kemampuan perbendaharaan kosa kata, kompetensi teknis, mental, dan fisik yang tinggi. Ketika keahlian kami disalahartikan sebagai sekadar bantuan sosial, di sanalah ketimpangan itu dimulai. Menghargai komunitas Tuli berarti harus menghargai jembatan komunikasinya secara profesional.

Krisis SDM dalam Pusaran Kebutuhan Inklusif
NTT hari ini sedang haus akan kegiatan inklusif. Seminar, lokakarya, hingga pelayanan publik mulai menuntut kehadiran akses Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO). Namun, permintaan yang tinggi ini berbanding terbalik dengan ketersediaan SDM JBI yang mumpuni dan kesejahteraan. Minimnya minat generasi muda untuk terjun ke profesi ini tidak lepas dari ketidakpastian karir yang disebutkan tadi. Jika sistem perlindungan buruh dan standar pengupahan bagi JBI tidak segera dibenahi, maka visi “NTT Inklusif” hanya akan menjadi slogan di atas kertas. Komunitas Tuli akan terus terhambat dalam urusan administrasi penting atau layanan kesehatan darurat hanya karena tidak ada “suara” yang mampu menyambungkan lidah mereka.

Membaca Ulang Reformasi dan Ruang Hidup
Dalam bingkai 28 tahun Reformasi, kedaulatan warga negara seharusnya mencakup akses tanpa batas terhadap ruang hidupnya. Bagi komunitas Tuli, ruang hidup itu adalah akses informasi. Dan bagi JBI, ruang hidup itu adalah pengakuan akan martabat kerja. Ketidakjelasan status dan apresiasi terhadap JBI adalah bentuk kegagalan kita dalam melihat keadilan buruh secara utuh. Buruh bukan hanya mereka yang berada di pabrik atau perkantoran formal, tetapi juga setiap individu yang mencurahkan tenaga dan keahliannya untuk merobohkan tembok diskriminasi.

Melalui tulisan ini, saya ingin menegaskan bahwa menulis adalah cara saya menolak ketimpangan yang selama ini dianggap normal. Sudah saatnya pemerintah dan masyarakat NTT melihat Juru Bahasa Isyarat bukan sebagai objek pelengkap seremoni, melainkan sebagai mitra profesional dalam pembangunan. Karena pada akhirnya, inklusi sejati tidak dibangun di atas pengabdian yang dipaksakan, melainkan di atas keadilan yang setara bagi semua pekerja. Profesi JBI bukanlah relawan, kami juga bukan perwakilan Dinas Sosial atau representasi organisasi agama. Kami hanyalah manusia-manusia yang merasa bisa menggunakan gerakan  tangan, ekspresi wajah dan gerakan bibir kami untuk menginterpretasikan informasi bagi komunitas Tuli NTT. Kami bangga dan kami bangga dengan profesi yang sejatinya masih perlu banyak berbenah diri.

Bapikul Edisi IV | April 2026 | Opini oleh  Willy Jhon Antonio Anakay

Post Related

Scroll to Top