Sebuah opini dari sudut pandang Psikolog Klinis
Bapikul Edisi VI | Juni | Opini oleh Fielia Litelnoni
Ketika berbicara tentang pesisir dan pulau-pulau kecil, percakapan publik nyaris selalu bergerak ke arah yang sama: abrasi, kenaikan muka air laut, kerusakan terumbu karang, atau hilangnya mata pencaharian nelayan. Semua itu nyata dan mendesak. Namun, sebagai seorang yang bekerja di ranah kesehatan jiwa, saya ingin menyorot satu dimensi yang kerap luput dari kebijakan dan pemberitaan yaitu apa yang terjadi pada kondisi psikis manusia yang hidup di garis depan perubahan ini. Laut bukan sekadar latar ekonomi; ia adalah rumah batin. Ketika batin terancam, yang retak bukan hanya pondasi tanah, melainkan juga rasa aman, identitas, dan harapan.
Dalam ilmu psikologi lingkungan, dikenal konsep place attachment yaitu ikatan emosional antara individu dan tempat yang ia huni. Scannell dan Gifford (2010) menjelaskan ikatan ini melalui tiga dimensi: orang (relasi sosial yang melekat pada tempat), proses (kognisi, afeksi dan perilaku yang terbentuk dari interaksi dengan tempat), dan tempat itu sendiri. Bagi masyarakat pesisir dan penghuni pulau kecil, laut bukanlah objek di luar diri. Laut adalah ruang lahirnya tradisi, bahasa, ritual dan cara pandang terhadap dunia. Implikasinya penting secara klinis. Ketika laut berubah, pantai mundur puluhan meter, ikan menjauh atau pulau perlahan tenggelam – yang terancam bukan hanya aset fisik, tetapi juga sense of self. Seorang nelayan yang tak lagi bisa melaut tidak sekadar kehilangan penghasilan; ia kehilangan peran sosial yang selama ini menjadi sumber harga dirinya. Kehilangan semacam ini sering tidak dikenal sebagai persoalan kesehatan jiwa, padahal ia adalah akar dari banyak keluhan yang muncul belakangan: insomnia kronis, mudah marah, dan menarik diri.
Solastalgia dan duka ekologis
Salah satu kontribusi penting psikologi terhadap isu lingkungan adalah penamaan atas pengalaman yang sebelumnya sulit diartikulasikan. Albrecht dkk. (2007) memperkenalkan istilah solastalgia: tekanan psikologis yang muncul ketika lingkungan tempat seseorang tinggal berubah secara negatif sementara ia masih berada di tempat itu. Ini berbeda dari nostalgia, yang dirasakan saat seseorang jauh dari rumah. Solastalgia adalah rindu akan rumah sambil masih berada di rumah itu karena rumah yang dikenang tidak lagi sama dengan rumah yang ditinggali. Bagi penghuni pulau kecil yang menyaksikan garis pantainya menyusut setiap tahun, atau warga pesisir yang dulu bermain di hamparan bakau yang kini hilang, solastalgia adalah pengalaman sehari-hari. Berkaitan erat dengan ini adalah konsep ecological grief yaitu duka yang muncul akibat kehilangan ekosistem, spesies, atau lanskap yang bermakna (Cunsolo & Ellis, 2018). Duka ini nyata, tetapi sering tidak mendapat ruang untuk diakui (disenfranchised grief), karena masyarakat belum terbiasa memandang kehilangan lingkungan sebagai sesuatu yang pantas diratapi. Akibatnya, banyak orang memendam kesedihan tanpa kerangka untuk memahaminya, yang justru memperberat beban psikologis.
Kecemasan iklim yang membayangi generasi muda
Krisis iklim tidak hanya menimbulkan duka atas yang telah hilang, tetapi juga kecemasan atas yang akan datang. Clayton (2020) menggambarkan climate anxiety sebagai respons emosional terhadap ancaman perubahan iklim yang dapat berkisar dari kekhawatiran ringan hingga gangguan fungsi yang signifikan. Bagi anak dan remaja di wilayah pesisir, ancaman ini bukan abstraksi di televisi, melainkan realitas yang mereka saksikan di halaman rumah.
Survei global terhadap kaum muda di sepuluh negara menemukan bahwa mayoritas responden merasa cemas, sedih, dan tidak berdaya menghadapi perubahan iklim, dan banyak yang menilai masa depan menakutkan (Hickman dkk., 2021). Yang memperberat, kecemasan ini sering bercampur dengan rasa dikhianati oleh pemerintah yang dianggap gagal bertindak. Penting digarisbawahi: kecemasan iklim bukan gangguan jiwa dalam pengertian patologis. Ia adalah respons yang masuk akal terhadap ancaman nyata. Tugas klinis kita bukan “menyembuhkan” kecemasan itu, melainkan membantu individu mengelolanya agar tidak melumpuhkan sambil mengarahkan energinya menjadi tindakan yang bermakna.
Pesisir dan pulau kecil adalah wilayah yang paling sering berhadapan dengan bencana: tsunami, badai, banjir rob, dan gelombang ekstrem. Tinjauan klasik Norris dkk. (2002) atas literatur bencana menunjukkan bahwa peristiwa semacam ini secara konsisten dikaitkan dengan gangguan stres pascatrauma (PTSD), depresi, kecemasan, serta keluhan psikosomatik. Yang khas dari wilayah pesisir adalah sifat ancaman yang berulang. Sebelum pulih dari satu bencana, masyarakat sering sudah dihantam bencana berikutnya.
Paparan berulang semacam ini dapat menimbulkan apa yang dalam praktik klinis kita kenali sebagai kewaspadaan berlebih yang menetap (chronic hypervigilance): tubuh dan pikiran yang tidak pernah benar-benar kembali tenang. Anak yang tumbuh dengan suara ombak sebagai pertanda bahaya, atau orang dewasa yang panik setiap kali air pasang, menanggung beban allostatik yang tinggi. Kerangka kausal yang diajukan Berry dkk. (2010) menegaskan bahwa perubahan iklim memengaruhi kesehatan mental melalui jalur langsung (trauma akibat peristiwa ekstrem) maupun tidak langsung (kerusakan mata pencaharian, perpindahan paksa, dan keretakan kohesi sosial).
Kesehatan jiwa tidak pernah berdiri sendiri. Doherty dan Clayton (2011) menekankan bahwa dampak psikologis perubahan iklim bersifat berlapis-langsung, tidak langsung, dan psikososial. Di wilayah pesisir, kehilangan mata pencaharian menimbulkan tekanan ekonomi yang merembet menjadi konflik rumah tangga, peningkatan konsumsi alkohol, dan dalam kasus berat, perilaku menyakiti diri. Tekanan ekonomi adalah salah satu prediktor terkuat penurunan kesehatan mental, dan masyarakat pesisir berada di titik paling rentan terhadapnya.
Persoalan diperberat oleh kenyataan geografis. Pulau-pulau kecil sering terisolasi dari layanan kesehatan jiwa. Psikolog dan psikiater terkonsentrasi di kota besar, sementara warga pulau mungkin harus menyeberang berjam-jam hanya untuk satu sesi konsultasi, jika layanan itu ada sama sekali. Akibatnya, gangguan yang sebenarnya bisa ditangani dini justru dibiarkan memburuk. Ketika kita berbicara tentang keadilan iklim, kita juga harus berbicara tentang keadilan akses terhadap kesehatan jiwa.
Dari kerentanan menuju ketahanan
Gambaran di atas tidak boleh membuat kita memandang masyarakat pesisir semata sebagai korban. Justru sebaliknya, komunitas pesisir dan pulau kecil menyimpan sumber daya psikologis yang luar biasa. Kohesi sosial yang erat, gotong royong, dan kearifan lokal dalam membaca alam adalah faktor protektif yang nyata. Dukungan sosial konsisten muncul sebagai salah satu pelindung terkuat terhadap dampak buruk bencana (Norris dkk., 2002).
Karena itu, intervensi yang masuk akal bukanlah memindahkan model klinis perkotaan secara mentah-mentah ke pulau, melainkan memperkuat apa yang sudah ada. Beberapa arah yang patut didorong: pertama, melatih kader kesehatan jiwa berbasis komunitas (task-shifting) agar pertolongan pertama psikologis tersedia tanpa harus menunggu tenaga ahli. Kedua, mengintegrasikan dukungan psikososial ke dalam rencana mitigasi bencana, bukan menempatkannya sebagai pemikiran belakangan. Ketiga, menciptakan ruang kolektif untuk mengakui duka ekologis melalui ritual adat, dialog komunitas, atau seni agar kesedihan tidak dipendam sendirian. Keempat, mengarahkan kecemasan iklim menjadi aksi adaptasi yang dipimpin warga, karena rasa memiliki kendali (agency) adalah penawar ampuh terhadap ketidakberdayaan.
Kebijakan pesisir dan pulau kecil selama ini diukur dengan satuan yang bisa dihitung yakni hektar tanah yang hilang, ton ikan yang menyusut, rupiah kerugian. Saya tidak menolak ukuran-ukuran itu. Namun sebagai psikolog klinis, saya ingin mengingatkan bahwa ada kerugian yang tidak muncul di neraca mana pun rasa aman yang lenyap, identitas yang goyah, duka yang tak terucapkan, dan harapan yang menipis. Mengabaikan dimensi ini bukan hanya kelalaian moral, tetapi juga kekeliruan strategis. Masyarakat yang sehat secara jiwa adalah masyarakat yang lebih mampu beradaptasi, bertahan, dan bangkit. Melindungi pesisir dan pulau kecil, pada akhirnya, bukan sekadar membangun tanggul dan menanam bakau. Tapi ajuga pekerjaan merawat manusia termasuk bagian dari manusia yang paling rapuh dan paling sering kita lupakan yakni batinnya.
Referensi
Albrecht, G., Sartore, G.-M., Connor, L., Higginbotham, N., Freeman, S., Kelly, B., Stain, H., Tonna, A., & Pollard, G. (2007). Solastalgia: The distress caused by environmental change. Australasian Psychiatry, 15(sup1), S95–S98. https://doi.org/10.1080/10398560701701288
Berry, H. L., Bowen, K., & Kjellstrom, T. (2010). Climate change and mental health: A causal pathways framework. International Journal of Public Health, 55(2), 123–132. https://doi.org/10.1007/s00038-009-0112-0
Clayton, S. (2020). Climate anxiety: Psychological responses to climate change. Journal of Anxiety Disorders, 74, 102263. https://doi.org/10.1016/j.janxdis.2020.102263
Cunsolo, A., & Ellis, N. R. (2018). Ecological grief as a mental health response to climate change-related loss. Nature Climate Change, 8(4), 275–281. https://doi.org/10.1038/s41558-018-0092-2
Doherty, T. J., & Clayton, S. (2011). The psychological impacts of global climate change.
American Psychologist, 66(4), 265–276. https://doi.org/10.1037/a0023141
Hickman, C., Marks, E., Pihkala, P., Clayton, S., Lewandowski, R. E., Mayall, E. E., Wray, B., Mellor, C., & van Susteren, L. (2021). Climate anxiety in children and young people and their beliefs about government responses to climate change: A global survey. The Lancet Planetary Health, 5(12), e863–e873. https://doi.org/10.1016/S2542-5196(21)00278-3
Norris, F. H., Friedman, M. J., Watson, P. J., Byrne, C. M., Diaz, E., & Kaniasty, K. (2002). 60,000 disaster victims speak: Part I. An empirical review of the empirical literature, 1981–2001. Psychiatry, 65(3), 207–239. https://doi.org/10.1521/psyc.65.3.207.20173
Scannell, L., & Gifford, R. (2010). Defining place attachment: A tripartite organizing framework.
Journal of Environmental Psychology, 30(1), 1–10. https://doi.org/10.1016/j.jenvp.2009.09.006

